Friday, 30 December 2011

Bagaimanakah Nasib TKI di Malaysia ?

Ini sebetulnya tulisan yang baru ditemukan.... gak sengaja bongkar2 data dan menemukan tulisan ini yang udah lama terpendam... semoga gak basi....
--------------------------------------------

Pengalaman pribadi Zulfadhli. HM 
Bintulu, April 05th 2009

Di sore bulan May 2008 yang cerah dengan awan yang bergulung cukup tipis di angkasa aku menerima email dari Istriku yang ketika itu sedang bekerja di Tidung Pala Kab. Tana Tidung Kaltim.

Terkejut, gembira, bahagia dan setengah tidak percaya aku membaca apa yang sedang aku lihat di layar computer yang ketika itu sedang berada di Sembakung Kab. Nunukan.

Di bagian subject aku melihat tulisan possible employment dan ternyata ini merupakan tawaran pekerjaan dari perusahaan yang berpusat di Sarawak.

Aku mencoba menelaah apa yang sedang terjadi dan mengkonfirmasikan dengan istriku via email dan langsung di jawab, bahwa istriku telah mengirimkan via email tawaran kerja di Malaysia.

Sontak aku terkejut dan senyum2 sendiri, pikiranku menerawang dan segera membayangkan apa yang akan terjadi disana.

Di dalam kontrak yang dikirimkan pada akhir July 2008 kemudian aku ditawari posisi xxxx dengan berbagai fasilitas2 yang telah disepakati kedua belah pihak dan penandatanganan kontrak kerja (agreement).

Dengan Batavia Air  & Malaysia Airlines melalui route Pontianak – Kuching – Miri kami berangkat pada tanggal 14 Agustus 2008. Di Miri kami langsung dijemput dan di bawa ke Hotel oleh Mr. Adrian J Carstens yang ternyata adalah kemudian menjadi Boss ku.

Pikiranku & Istriku yang saat itu sedang hamil 5 bulan berbunga2 dan sangat bahagia atas karunia Allah SWT karena kami diberikan kesempatan untuk bekerja di Malaysia sebagai tenaga skilled. Dengan posisi dan jabatan yang aku pegang cukup memberikan jaminan fasilitas yang diatas rata2.

Aku adalah satu-satunya xxxx yang selama ini vacant lebih kurang 2 tahun. Job description sudah sangat jelas dan procedure kerja sama saja dengan perusahaanku yang lama hanya perlu penyesuaian kerja.

Dengan memiliki Boss yang berasal dari South Africa membuatku mau tidak mau / suka tidak suka harus menggunakan bahasa inggrisku yang sungguh sangat kacau grammar & conversation nya. Disini pelajaran pertama aku mulai belajar bagaimana hidup dan bekerja sebagai “Expatriate” dengan penuh dedikasi dan integrity.

Wilayah kerja xxxx Of Companies khususnya Reforestation (Kalau di Indonesia = HTI) sangat luas dan scattered setidaknya saat ini ada 10 plantation yang jaraknya sangat jauh bahkan ada 1 plantation yang di seberang Brunei sehingga kalau mau kesana mesti ke Brunei dulu kalau lewat darat.

Dengan areal yang sangat banyak dan berjauhan aku memiliki kesempatan belajar yang kedua yaitu menjadi driver. Selama di Indonesia aku selalu memiliki private driver yang memang disediakan oleh perusahaan sebagai salah satu fasilitas. Di xxxx Of Companies Plantation Director saja mengemudikan mobil sendiriaan, sehingga aku harus mengemudikan mobil sendirian juga, disinilah aku mendapatkan pelajaran bagaimana menjadi driver dan memahami tata tertib peraturan lalu lintas di Malaysia (selengkapnya sudahdi ceritakan dalam “Pengalaman membuat SIM Malaysia”).

Perjalanan panjang dan harus mendatangi setiap camp-camp yang mana memberikan pelajaran berharga. Aku memiliki akses dan kesempatan untuk bertemu banyak TKI baik Legal maupun Illegal. Banyak suka dan duka yang mereka bagi dalam setiap kesempatan yang ada.

Kami sekeluargapun tidak luput mengalami apa yang mereka rasakan, setiap kami pergi ke tempat umum seperti polyclinic, Bank, Hospital, Mall dll mereka terkadang bertanya kepadaku ataupun istriku seperti darimana berasal? Kemudian kami menjawab dari Indonesia. Pertanyaan selanjutnya kerja apa dan dimana? Kemudian kami menjawab kerja di xxxx bagian Ladang. Lalu mereka langsung menginterpretasikannya sebagai tukang tebas, tukang tanam, tukang tombak buah,  tukang semprot, dll yang bekerja di ladang / kebun.

Kebanyakan / mayoritas masyarakat Malaysia melihat TKI atau pekerja dari Indonesia tidak ubahnya selevel Sendal Jepit saja. Banyak factor yang meyebabkan hal ini terjadi :
  1. 95 % tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Malaysia adalah tenaga kerja kasar dan tidak memiliki skill sama sekali.
  2. 90 % tenaga kerja kasar di Malaysia adalah orang Indonesia
  3. Setiap tahun tingkat kejahatan dan kekerasan yang dilakukan oleh TKI meningkat cukup tajam, baik kejahatan kepada Penduduk Malaysia (orang tempatan) maupun kerusuhan / pembunuhan sesama TKI.
  4. Tidak adanya perlindungan hukum yang memadai baik bagi TKI legal maupun illegal membuat TKI yang bandel membuat dan mengambil tindakan sesuai dengan hukum rimba yang ia kehendaki.

Menjadi expatriate bagiku ternyata bukanlah sebuah pencapaian yang akan membebaskan kami sekeluarga dari anggapan perusuh, karena kebanyakan penduduk Malaysia sudah mulai gerah dengan tindak tanduk TKI / warga Indonesia yang sering bringas / biadab & kurang ajar.

Sering kali kalau kita mengikuti dan menyimak berita baik di TV maupun koran local tentang berita criminal selalunya melibatkan warga Indonesia dan tidak jarang tindakan mereka berdampak buruk bagi teman2 sekampung ataupun serombongan yang tidak tahu menahu dengan kasus mereka.

Contohnya yang terjadi sekitar Dec 2008 di salah sartu camp kami. Seorang TKI bernama Angki berasal dari NTT dengan kepala rombongan bernama Beni. Angki marah kepada seorang kerani / clerk yang membuat rekapitulasi gaji, karena gajinya kurang dalam perhitungan untuk bulan tersebut. Sang clerk yang merupakan orang tempatan tidak menghiraukan komplain / protes dari Angki. Akhirnya Angki mengambil batu dan merusak / mengores dinding mobil pribadi double cabin milik sang clerk serta memecahkan lampu signal sebelah kiri depan.

Melihat tindakan ini maka sang clerk dibantu oleh orang tempatan lainnya mengambil senapang angin yang biasa mereka pakai untuk berburu binatang dan mencoba menembak Angki. Beni yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian segera bergegas kabur dari lokasi begitu juga dengan Angki. Rombongan orang tempatan tidak dapat mengejar / menemukan Angki & Beni karena mereka lari kedalam Hutan. Keesokan harinya di tenda Beni dan krunya yang masih tertinggal 4 orang di kejutkan oleh suara berisik orang ramai yang mencari Angki dan Beni. Melihat orang yang dicari tidak ada mereka menupahkan kekesalan kepada 4 orang teman angki yang tidak tahu asal muasal masalah. Akibatnya 2 orang terluka dibagian kepala dan tangan, kalau tidak segera kabur dan dilerai oleh orang lain maka mungkin 4 orang ini sudah menjadi mayat di lapangan. Setelah kejadian ini tidak ada tindakan hukum apapun terhadap orang yang menyebabkan luka dibagian kepala dan tangan temannya Angki.

Penegakan hukum hanya berlaku kepada TKI, tetapi tidak tegak kepada orang tempatan. Tindakan2 pelecehan, cemoohan dan lain2 sering di terima oleh TKI baik yang legal maupun yang illegal.

Banyak lagi kasus2 ketidak harmonisan antara TKI dan orang tempatan dan hinaan juga sering terjadi di Malaysia. Keterpurukan ekonomi dan banyaknya orang yang tergiur mau bekerja sebagai tenaga kerja kasar baik yang bekerja di ladang (kebun), kilang (pabrik) ataupun general worker telah membuat posisi kita semakin lemah.

Kepada masyarakat Indonesia yang mau bekerja di Malaysia harus mengetahui secara jelas dulu tentang pekerjaan yang akan dilakukan, siapa pengelola PJTKI, di daerah mana lokasi kerja dan juga mesti ada kontrak kerja yang jelas. Sebagai gambaran untuk kerja di Kilang gaji perhari adalah RM 9. kalau bekerja di ladang adalah RM 19. Tidak ada fasilitas2 yang mengiurkan disini.

Tingkat profesionalitas & efektitas kerja orang tempatan sangat buruk. Sifat jealous & main politik sangat dominant terhadap orang luar yang mendapatkan posisi baik. Penolakan tidak jarang terjadi bahkan sampai kepada pemutusan kontrak ataupun pengembalian pekerja asing kembali karena orang tempatan tidak setuju. Mereka menjadi sangat jahat jika melihat ada orang asing mendapatkan fasilitas dan posisi yang tinggi, sementara mereka tidak di promosikan.

Bagi yang mau menjadi TKI sebaiknya memikirkan kembali karena kalau sudah terlanjur di Malaysia Passport akan dipegang oleh perusahaan atau PJTKI agar tidak dapat lari setidaknya 2 tahun. Kalau sudah demikian maka TKI akan seperti kerbau yang ditusuk hidungnya dan tidak memiliki pilihan lain selain menjalani masa 2 tahun penuh kegetiran, karena banyak sekali PJTKI jahat yang sengaja menjual warga Indonesia demi mendapatkan commission. Per kepala biasanya perusahaan membayar kalau dari Jawa RM 1.200 – 1.500 kepada PJTKI, tetapi kenyataannya dilapangan PJTKI minta uang juga dengan calon TKI untuk biaya2 administrasi antara Rp. 1 – 5 juta. Kepada calon TKI, HATI-HATI & waspadalah dengan warga negara Indonesia sendiri yang banyak sekali melakukan tindakan "memperdagangkan orang" dan juga petugas yang rajin melakukan PUNGLI!!!.

Jangan salahkan masyarakat Malaysia yang selalu berpandangan negatif terhadap TKI, tetapi coba instrospeksi diri kembali apa sebenarnya yang salah salah siklus sistem ini dan adakah upaya perbaikan sudah dilaksanakan secara optimal???


 
Miri - Sarawak

10 comments:

Herry said...

Pantes ya, kebanyakan yang kerja disana susah pulangnya kalo masih dalam kontrak kerja.
Kebanyakan orang kita terlalu tergiur sih sama rayuan para calo yang ngajak kesana..
Trima-kasih atas pengalamannya..

Asep Saepurohman said...

dipersulit begitu ya?

Zico Alviandri said...

Wew.. begitu ya.. Serem juga kerja di sana..

Tapi bahasa asing saya ga gitu bagus.. Ngapain lah mimpi kerja di luar :D

Cerita Tugu said...

intropeksi diri itu penting jadi ngga mudah menyalahkan orang lain, kita sendiri yang kurang ketrampilan/ilmu pengetahuan sehingga pantaslah bangsa lain melecehkan kita

hilsya said...

TFS.. Zul
emang miris liat kondisi para TKI (yg kurang sukses) itu, begitu banyak yang harus dibenahi

niee said...

Kalau kerja sebagai tenaga skil emang seru ya bang.. Tapi emang mainset orang disana dengan orang indonesia udah jadi tenaga pekerja kasar kali yak.. Aku juga sering ditanya apa tujuan ke Malay saat ke kuching kemaren.. Kalau udah bilang untuk liburan baru deh mereka baik2in, hmmm

Arman said...

wah ternyata tki di malaysia dipandang gak bagus ya... :(
sayang juga ya kalo para tki kelakuannya begitu. jadinya mereka sendiri yang dirugikan kan...

Mugniar said...

Aduh ternyata seperti itu ya pandangan mereka terhadap TKI ... #miris#

Elsa said...

mungkin memang benar ya
ekspor tersebar Indonesia saat ini adalah ekspor TKI

Template Booklet Company Profile said...

dipersulit begitu ya?