Showing posts with label INA vs MAS. Show all posts
Showing posts with label INA vs MAS. Show all posts

Saturday, 17 December 2011

Sarawak 10th State Election 2011

Upsss udah lama juga gak posting... gatal rasanya jari buat sharing berita baru. Pemilu dan sistem pemerintahan di Malaysia sangat berbeda dengan di Indonesia. Kali ini gw ingin sharing bagaimana situasi dan gambaran Pemilu Legislative di Sarawak yang berlangsung 16 April 2011 (haaa...ha....ha udah basi yach beritanya). Biar ajalah... dari pada gak ada sama sekali... better late than never... mari kita lihat situasi & datanya.


Round
Years
Membership
01st
1969
48
02nd
1974
48
03rd
1979
48
04th
1983
48
05th
1987
48
06th
1991
56
07th
1996
62
08th
2001
62
09th
2006
71
10th
2011
71


Sekilas inilah daftar tahun penyelenggaraan pemilu di Sarawak setelah bergabung dengan Malaysia sejak 1963. Jumlah kursi yang di perebutkan juga bertambah secara significant sejak 1969 hingga saat ini 2011.
Diseberang sungai Kuching ini adalah bangunan / kantor Dewan Undangan Negeri yang bersebelahan dengan kompleks Astana (Istana nya penjajah Inggris). Perahu ini adalah moda transportasi yang sangat terkenal di Kuching untuk wilayah di seberang.
Pemilu kali ini adalah untuk pemilihan Anggota Dewan Undangan Negeri (State Legislative Assembly) ato kalo di Indonesia adalah anggota DPRD. Sarawak sebagai sebuah bagian dari Negara Federal memiliki atao di bagi menjadi 71 bagian sehingga kursi yang akan di perebutkan adalah dari bagian N01 - N71. Mereka hanya memiliki / memilih anggota DPRD dan mereka gak punya DPRD Tk. II. Jadi lebih simple dari Indonesia yang banyak sekali orang berbondong2 ingin menjadi anggota DPRD Tk. II. Singkat kata hasilnya adalah Barisan Nasional menang 55 kursi, PKR pimpinan Anwar Ibrahim menang 3 kursi, DAP 12 kursi (jadi oposisi menang 15 kursi) dan calon Independent dapat 1 kursi. Kalo di evaluasi dari perolehan 2006 maka dari 71 kursi yang diperebutkan Barisan Nasional hilang 9 kursi dan pada tahun 2011 ini total kehilangan kursi adalah 16. Artinya ada 7 wilayah yang sudah berubah haluan. Hal ini membimbangkan Barisan Nasional yang di komandani UMNO. Baru saja UMNO selesai melakukan Perhimpunan Agung ato Kongres Nasional untuk membahas berbagai persoalan termasuk kenapa ada kekalahan di Sarawak. Sebagai tambahan informasi mereka sedang mempersiapkan diri untuk PRU 13rd (Pemilihan Raya Umum). Ini akan memilih anggota Parlemen dan akan berkantor di Putra Jaya Kuala Lumpur.
Ini adalah salah satu banner pemilu yang lalu di Sarawak. Bahasa yang dominan di pake adalah Mandarin dan untuk wilaytah Miri semua candidate adalah kaum china dan mereka cukup dominan dalam sistem perpolitikan Malaysia
Salah satu media propaganda / provokasi PKR (Pakatan Rakyat - Oposisi). Ini adalah data2 berbagai kebobrokan pemerintah yang di kendalikan oleh Taib Mahmud yang sudah berkuasa di Sarawak lebih dari 25 tahun. Poster ini berbahasa Dayak Iban
Majalah ini gw dapat di Boulevard Mall dan ini adalah media kampanye bagi Barisan Nasional yang untuk wilayah pemilihan N.65 Miri. Malajah ini gak bisa gw baca karena dari halaman depan ampe belakang hanya menggunakan huruf  dan bahasa Mandarin
Kesemarakan suasana pemilu sangat terasa sekali di Miri ketika election ini. Berbagai  teknik kampanye yang berlangsung hampir sama dengan kita di Indonesia. Yang berbeda adalah ini adalah pertarungan antara Barisan nasional dan Pakatan Rakyat. Biasanya dalam satu wilayah pemilihan adalah pertarungan 1 lawan 1 artinya untuk merebut kursi di suatu wilayah maka candidate nya hanya 2 orang 1 BN dan 1 Pakatan Rakyat. Pertarungan ini sangat seru... bandingkan dengan Indonesia yang calonnya bejibun.... ampe binggung untuk mencoblosnya... karena kertas surat suaranya sangat besar.
Ini 3 candidate BN di Miri karena Miri di bagi menjadi 3 bagian yaitu  N65 Senadin, N63 Piasau & N 64 Pujut. Ketiga wilayah ini pada election yang lalu di pegang oleh BN melalui kadernya dari partai SUPP tetapi pada pemilu 2011 kemaren 2 kursi (Piasau & Pujut) di gondol Pakatan Rakyat melalui kadernya dari partai DAP. Pertarungan di Miri sangat keras karena berhadapan dengan voters yang educated and sudah bosan dengan kemapanan dari BN. Mereka memerlukan suasana baru dan adanya perubahan. BN sangat terpuruk di Miri dan membuat mereka berfikir ulang untuk persiapan PRU 13 yang akan datang.
Inilah wajah candidate electioan kemaren dan 2 diantara mereka yang merupakan incumbent kalah telak di bagian Piasau & Pujut. Ohh... iyaa.. baju yang mereka pake adalah Batik 1 Malaysia dan ini pakaian resmi mereka untuk saat ini.
Incumbent dan akhirnya kalah juga.... kasihan juga dia... semoga gak menyerah dan next time bisa berjuang lagi... Andy Chia adalah kader SUPP dan hasil kongres nasional mereka yang baru lalu di Kuching sangat mencengangkan... hampir 50% pengurusnya mem-boikot perhimpunan agung tersebut. Gak tahu apa masalahnya karena berita di TV & koran  sangat tertutup.
Roundabout Pujut yang sekarang sudah di bongkar untuk up date sistem transportasi.. huusss ngawur lagi gw. Ini adalah gambar poster-poster kampanye. Menurut gw... mereka sangat keras / kasar dalam menulis setiap kata-kata dalam poster ini dan kurang baik bagi pendewasaan politik young voters.
Inilah pengumuman resmi dari Suruhanjaya Pemilihan Raya ato KPU kalo di Indonesia. LIhat secara seksama bahasa yang di pake yaitu bahasa melayu, bahasa iban and bahasa mandarin 
Bapak ini adalah salah satu candidate untuk wilayah N.66 Marudi dan  beliau kalah dengan candidate dari BN dan diwakili oleh partai SPDP
Yaaa... lebih kurangnnya demikianlah suasana pemilu di Sarawak yang udah berlangsung 8 bulan lalu. Semoga berguna. Bagaimana kondisi politik di Indonesia???




Lanjuuut Maaaang - Sarawak 10th State Election 2011

Friday, 9 December 2011

Bagaimanakah Parkir Bisa Menjadi Devisa ?

Apakah temans masih ingat dengan kasus Diplomat Indonesia di New York US gak mau / mampu bayar denda parkir dengan total 5 milliar lebih? Apakah emang sedemikian mahalnya denda ini sehingga Diplomat RI disana rela mempermalukan & merendahkan martabat bangsa ini di US? Bagaimanakah pola perparkiran yang efektif dan efisien? Bagaimanakah Perparkiran bisa merupakan atao menjadi sumber devisa dan pemasukan negara? Apakah para anggota DPR perlu menghabiskan miliaran rupiah hanya untuk mempelajari sistem perparkiran yang baik dan benar? grrookkk....... nggerrejjj,m,,..hhgdagggrrsss...&***##**** aaahhggrrrhh .... tuiing..tuing... berjuta pertanyaan akan muncul sehubungan dengan pola pengelolaan parkir yang modern dan berkualitas. Gw hanya ingin sharing saja bagaimana negara tetangga mengelola parkir yang pada akhirnya mampu memberikan masukan income dan membuka lapangan pekerjaan yang formal bagi masyarakatnya. Berikut gw coba paparkan gambar2 koleksi pribadi mengenai / segala sesuatu yang berhubungan dengan parkir dan manajemen parkir.
Gw sengaja menggunakan size XL untuk gambar ini karena takut para penonton sekalian gak bisa membaca / melihat setiap detail yang ada dalam lembaran kupon ini. Ini adalah kupon parkir di Kota Kinabalu Sabah Malaysia. Kupon ini akan disimpan dalam plastik transparant & di simpan di wiper kaca mobil kita secara terbalik untuk mencegah air hujan masuk dan merusak kupon ini. Petugas perparkiran ini akan mengecek mobil di wilayah tugas masing2 setiap 30 menit. Dibagian kanan kupon adalah data mengenai tahun, bulan dan tanggal kupon ini di pake. Dibagian tengah ada data lengkap mengenai kendaraan dan kapan masuk ke tempat parkir. dibagian bawah adalah biaya yang harus dibayarkan. Contohnya begini mobil kita sudah masuk di tempat parkir ini selama 1 jam 40 menit maka kita harus membayar 1.60 ringgit kalo 1 jam 30 menit kita harus membayar 1.05 ringgit yang paling mahal adalah kalo 9 jam yaitu 31.25 ringgit. Parkir ini di hitung jadi mulai jam 08.00 am - 05.00 pm. Gw pernah parkir dari siang  sekitar jam 2 pm kemudian baru memindahkan mobil gw sekitar jam 11 am keesokan harinya... dan gw sangat terbelalak dengan biaya yang harus gw bayar dan pengen ngebunuh penjaga parkir rasanya.... mahalnya ajubileee... loo itung aja sendiri berapa yang harus dibayarkan karena ini adalah akumulasi dari hari sebelumnya.... mau pengsan gw.
Kupon yang ini hanya berlaku di dalam kawasan Bandar Bintulu saja. Bintulu  Development Authority (BDA) adalah seperti PEMDA kalo di Indonesia untuk kawasan / daerah Bintulu. Perhatikan secara seksama kupon parkir ini. Kupon ini menggunakan 3 bahasa yaitu Melayu, Inggris & Mandarin. Cara menggunakan kupon ini adalah dengan melobangi setiap 5 bagian secara seksama dimulai dari tahun berapa ? bulan apa? hari / tanggal berapa? jam berapa  & menit keberapa?. Kupon yang sudah dilubangi secara betul akan di letakkan di dalam dashboard mobil kita dan harus kelihatan secara jelas dari luar. Petugas akan melakukan pengecekan setiap 15 menit dan akan mencatat berapa menit sudah kita parkir disini. Kalo sudah lebih dari 30 menit maka akan di letakkan kartu / kupon denda di wiper mobil untuk setiap kelipatan 30 menit kemudian. tapi jangan khawatir denda ini sangat kecil / murah sekali hanya sekitar 5 sen per 30 menit kalo gw gak salah. Kita harus membeli kupon ini dahulu sehingga kita gak perlu khawatir untuk parkir dimanapun karena sudah ada stock kupon. Apa akibatnya kalo lupa memasang kupon parkir ini?.. gw pernah lupa masang kupon ini ketika parkir di dekat River Front Inn Hotel Bintulu dan akibatnya gw harus bayar denda / compound 15 ringgit yang harus dibayarkan dalam masa 7 hari dari tanggal denda di jatuhkan. Kalo gagal memenuhi peraturan ini maka akan di denda yang jauh lebih besar lagi.  
Yang ini pula adalah kupon parkir di Miri. Yang bertanggung jawab untuk mengelola Bandar Raya ini adalah Majlis Bandar Raya Miri (MBM). Kupon parkir jenis ini menggunakan sistem gores. kita harus menggores secara lengkap setiap kolom diatas yang sudah disediakan. dan lihat bedanya dengan yang di Bintulu. Ada kotak biru dan hijau. Kalau kita parkir di tempat yang ada sign board berwarna hijau maka kita gores yang kotak hijau dan artinya ini kupon berlaku untuk 1 jam dan setelah itu barulah akan ada denda yang juga sangat murah. Kupon ini juga menggunakan 3 bahasa. Gw pernah kena tilang karena salah letak mobil, maksudnya gw parkir di tempat yang seharusnya gak boleh parkir dan di saman / denda oleh police traffic di airport 30 ringgit dan yang kedua kalinya gw juga pernah di denda ketika parkir di depan post office sekitar areal Imperial Mall juga oleh police traffic. Ketika gw pergi ke police office untuk bayar denda ini rasanya malu sekali dan eehhh ternyata banyak juga orang2 bandel yang kena denda pada hari itu, totalnya mungkin ada 30 orang lebih. Dewan Bandar Raya Kuching Utara, Majlis Bandar Raya Kuching Selatan & Majlis Bandar Raya Sibu juga menggunakan pola kupon gores seperti ini.
Ini adalah areal parking swasta yang berada di sekitar China Town Kuala Lumpur
Canggih. Ini lebih modern lagi dimana para pemilik mobil hanya membeli tiket parkir di mesin ini yang di letakkan di tepi jalan dekat dengan areal parkir dan cukup masukkan koinnya sesuai dengan kebutuhan dan keperluan maka anda gak perlu was-was lupa membeli kupon ato lupa masang kupon. Mesin ini gak ada yang jaga dan ternyata aman juga di pasang di tepi jalan sekitar China Town Kuala Lumpur.
Pihak Hotel juga memberikan peluang bagi siapa saja yang ingin memarkir kerndaraannya di basement hotel - Kuala Lumpur.
ERP system begitu kuat dan efektif dalam mengendalikan sistem perparkiran di Singapore. Di tepi jalan gak jauh dari City Hall - esplanade gw menemukan sign board yang begitu bagus ini yang memberikan informasi sangat penting bagi pengguna mobil yang ingin mencari tempat parkir. Semuanya teratur dan nyaman buat pengguna jalan dan areal parkir.

Ini sign board peringatan bagi semua pengguna motor yang bandel. Foto ini berada disekitar Little India Singapore.
Sama dengan foto diatas hanya saja ini di daerah yang laennya dan gw lupa.
Bagaimana potret pengelolaan parkir di Indonesia? gw gak tahu di daerah laen. yang gw tahu selama hampir 8 tahun di Pontianak Kalimantan Barat dan areal seputar Kalbar maka pengelolaan parkir sangat sembrawut, jorok, gak nyaman, rasa kena palak, deeleeelleell. Sungguh memilukan...tapi itulah kenyataan perparkiran di Kalbar.

Di negara maju mereka mempersiapkan semua sarana & prasarana pendukung sehingga semuanya under control, mulai dari basement buat gedung2, hotel dan bangunan khusus untuk parkir yang banyak sekali bertaburan... Perparkiran yang di kelola dengan baik ternyata akhirnya mampu memberikan income yang lumayan bagi pemerintah dan juga akan membuka lapangan pekerjaan formal untuk usaha mengurangi pengangguran dan juga meningkatkan income masyarakat yang pada akhirnya akan meratakan kemakmuran bersama.

Di Indonesia.. sistem perparkiran di kuasai oleh preman, geng dan kelompok2 ormas tertentu.. yang sering kali juga pada akhirnya melibatkan / terjadi tawuran antara geng / kelompok ini karena rebutan lahan parkir.... sungguh memalukan dan menyedihkan. Apakah di Indonesia kita gak punya engineer yang pakar mengenai transportasi kota dan urban city? ato kita gak punya ahli tata kota / masterplan? ato emang kita gak ada blueprint? atoo apa sebetulnya masalahnya???...

kalo di Mall dan hotel itu emang sudah lazim ada pengelola parkir yang official... tetapi bagaimana dengan parkir liar di tepi atao luar pagar mall??? banyak sekali praktek2 illegal ini dan dibiarkan oleh pemerintah selaku pemegang amanah rakyat. Ato emang rakyatnya menyukai praktek2 kolot dan purba ini?

Tapi gw yakin suatu ketika nanti Indonesia akan bisa menyesuaikan diri dengan berbagai kemajuan teknologi dan menerapkan segala kecanggihan dunia untuk memberikan rasa nyaman, damai dan aman bagi setiap penduduknya. 


Marudi - Sarawak
... Ayah Double Zee ...
Lanjuuut Maaaang - Bagaimanakah Parkir Bisa Menjadi Devisa ?

Tuesday, 15 March 2011

FAQ for Expartriate

Halah…..halah…… udah mau abis bulan Maret 2011 tapi blog Bunda Zahia masih miskin tulisan….. Sepertinya memang kondisi hamil yang ketiga untuk calon anak kami yang kedua ini membuat Bunda Zahia rada2 kumat malesnya buat up date blog ini….

So, what to do …. Pangeran Cinta (gile bener gw lagaknya...hiksss..) harus juga turun tangan buat meramaikan suasana dalam blog ini... maka kita mungkin bisa sedikit sharing2 apa2 aja yang bisa di kumpulkan selama ampir 3 taon kami di Sarawak…..

Lanjuuut Maaaang - FAQ for Expartriate

Friday, 18 June 2010

Kenapa Lo betah Tinggal Disana?

Setting → Ruang makan, pada sebuah meja, depan lappie dan modem yang menunjukkan grafik HSDPA

Deskripsi → Seorang emak2 manis beranak satu sedang sibuk ceting dengan seorang sahabat nun jauh di Jakarta. Peristiwa ini terjadi tengah hari bolong, pada saat Zahia bobo sehingga emaknya bisa kelayapan di pesbuk

Sahabat : “San, apa kabar lo? Gimana Zahia, sehat?
Gw : “Alhamdulillah Say gw sekeluarga sehat. Lo apa kabs? Sehat dunks pastinya?”
Sahabat : “Alhamdulillah. Btw kapan mudik?”
Gw : “Rencana seh laki gw ambil cuti 20 hari, mulai tanggal 4 Sept. Sebelom Lebaran jadwal show cuma di Jakarta, Bekasi, Bogor, Cilegon. Lebaran di tempat Kakek gw (Pandeglang). Abis itu baru dah kelayapan ke Bandung, Singkawang dan Pontianak. Road show booo gw!”
Sahabat : “Syiiippp. Ketemuan yah. Kangen gw ama congor lo yang kaga berhenti ngoceeeehhhh”
Gw : “Hahahaha, satu lagi Bu. Kaga berhenti makan”
Sahabat : “Oh iya, lupa gw kalo lo rakus. Btw rencana ampe kapan di M’sia? Kaga niat lo stay di Indonesia? Betah amat Neng di Negara orang”
Gw : “Niat seh niat Say, tapi saat ini yang mo ngegaji laki gw kan perusahaan M’sia. Kalo emang nanti rezekinya di Indonesia yah pasti balik dunks”
Sahabat : Pasti udah keenakan digaji Ringgit deh”
Gw : “Hihihi, tau ajah lo”
Sahabat : “Eh gw mau tau dunks enak dan ga enaknya disono dibanding dengan di Indo”
Gw : “Iiiiihhhh bawel amat lo dari tadi nanya kaga kelar2. Udah jadi wartawan inpotemen yah?”
Sahabat : “Hahahaha. Eh sori dori neh gw cabs dulu. Ada tamu tuh ketok2 pintu”
Gw : “Ocreh Hon. Tar disambung lagi yah. Salam buat laki lo. Oya, bagus gw jawab pertanyaan lo di blog gw dah biar lo puasssss. Lo baca sendiri yah disitu. Bye”

Demikianlah sodara2, obrolan antara dua orang sahabat. Ga ada yang penting2 amat banget sebenernya, hanya percakapan seputar kabar. Tapi bagi gw menjadi amat penting, karena itu adalah ke 46x nya gw ditanya seperti itu. Ditanya apa maksud lo? Itu loh, ditanya kenapa betah amat di Negara orang. Sebenernya, jika disuruh milih, jelas lah gw (baca: kami) lebih cinta Indonesia dibandingkan M’sia. Gw dan laki ga akan murtad menukar kewarganegaraan kami. Zahia pun, yang punya akte lahir M’sia, dan bisa memilih untuk menjadi WN M’sia jika sudah berumur 14 taun, kemungkinan akan tetap berkewarganegaraan Indonesia seperti ortunya. Nah terus kenapa dong? Hadoh, nanya mulu! Baiklah, supaya kaga penasaran, gw akan jawab.

Mata pencaharian. Yup, itu jawabannya. Demi segenggam berlian dan sejumput intan, serta masa depan secerah wajahnya Dian Sastro, maka kami bela2in ngungsi ke Negara orang, menjemput rezeki yang Allah berikan. Toh siapapun juga, jika ada kesempatan yang lebih baik untuk meningkatkan kesejahteraan hidup, pasti akan menjatuhkan pilihan kepada yang terbaik. Sebenernya, kalo diitung2, gaji gw digabung laki pas kerja di Kalimantan, ga begitu signifikan perbedaannya dengan gaji Abang yang sekarang. Tapi Abang bilang gpp, Beliau hanya berfikir pengalaman yang akan diperoleh, karena jika bikin CV, ada pengalaman bekerja di luar negeri selain negeri sendiri, tentu merupakan nilai plus. Dan itung2 sebagai batu loncatan jika mo mengepakkan saya ke Negara lain [Zimbabwe misalnya. Hohohoho, bercanda gw!]. Perbedaannya kalo dulu 2 orang yang mencari nafkah, sekarang 1 orang ajah, yang 1 nya lagi bisa jaga anak dan ngurus rumah. Akan tetapi, sebagai ekspat, keberlangsungan nafas ditentukan oleh kontrak. Kalo kontrak udah di penghujung taun [kontrak laki gw 2 taun sekali], maka jantung lumajan kebat-kebit juga karena yang namanya nasib kita ga bisa tau. Syukur Alhamdulillah kalo diperpanjang. Lah kalo kaga? Pulang kampung lah yau [semoga kontrakmyu diperpanjang terus yah Hon. Amien].

Menanggapi pertanyaan berikutnya tentang enaknya digaji Ringgit, jawabannya ada 2, enak dan ga enak. Enaknya apa Jeng? Ya itu dia, pendapatan dalam bentuk Ringgit. Kalo ga enaknya apa? Ya itu dia, pegeluarannya juga dalam bentuk Ringgit. Kondisi yang terenak dan sangat ideal adalah jika pendapatan Ringgit, pengeluaran Rupiah. Tapi masa iya gw seminggu sekali kudu belanja ke Entikong (perbatasan)? Tekor bo yang ada. Ni yah Say, gw kasih tau. Disini apa2 mahal. Kangkung di Singkawang, 2 rebu dapet 3 ikat, bahkan kalo Mamang Tukang Kangkung lagi kumat naluri bersedekahnya bisa dapet 6 ikat loh. Gw pernah ngalamin yang kaya begitu. Disini, 1 RM [kurs berkisar anatara Rp 2.600,- sd Rp 3.000,-] cuma dapet 1 ikat kangkung. Sawi 3 bonggol mini harganya 1 RM. Cabe merah, pernah sekilonya 25 RM. Ajegile lo beli cabe 75 rebu!! Tapi teteup musti kudu wajib harus beli secara Utinya Zahia Ratu Cabe, hampa hatinya kalo ga ngeliat cabe, nelongso hidupnya tanpa cabe. Pokonya mahal deh apa2, kecuali barang2 subsidi Kerajaan seperti: gula 1 kg = 1,8 RM; minyak goreng 5 kg = 13 RM; gas 1 tabung gede = 28 RM, dll [kalo mo liat yang detail, gw pernah posting harga barang2 di Bintulu. Silahkan dibaca postingan “Belanja…….Yuuuuukkkk Mariii”. Belom gw update lagi seh dengan harga2 di Miri karena beberapa item ada yang berubah harganya, soalnya yang namanya pasar kan fluktuatif].

Belum lagi, semenjak pindah dari Bintulu, rumah, air dan listrik kudu bayar sendiri. Waktu di camp, walopun jam 11 pm ampe jam 5 am listriknya mati, tapi kaga perlu mbayar [maklum lah disono pake genset. Perusahaan kaga mau gensetnya idup 24 jam tanpa istirahat karena bisa cepet rusak]. Emang seh laki gw semenjak pindah ke Miri dikasih housing allowance, tapi ga cukup bo kalo buat bayar semuanya. Tagihan listrik sebulan berkisar antara 200 - 350 RM [bikin pingsan!!], sedangkan air 15 - 25 RM. Ditambah dengan bayar sewa rumah? Nombok ekye.

Next question adalah enak ga enaknya, ato let’s say positif negatifnya tinggal di M’sia dibanding dengan di Indo. Gw akan mencoba mengkomparasi kedua Negara ini, berdasarkan pengalaman kami tinggal di Bintulu dan Miri:

1. Biaya Kesehatan

→ Ini yang bikin gw seneng. Kalo kita sakit, pergi ke Klinik Kerajaan, bagi WNM bayar cuma 1 RM, warga asing 15 RM. Biaya tersebut udah mengcover ketemu Dokter, minta obat, cek2 segala macem (cek laboratorium, cek darah, X-ray), dan tetek bengek lainnya jika diperlukan. Untuk pap-smear kan udah pernah gw ceritakan jika PS dilakukan sepaket dengan ECG, tes urine, tes darah, tes payudara, baik WNM atopun foreigner tidak dipungut bayaran alias gretong. Waktu ngelahirin Zahia, total biaya yang kami keluarkan adalah 1700 RM, udah termasuk di dalamnya biaya caesarian, obat2an, nginep 3 malam, tes makmal (baca : laboratorium), USG, Zahia berada di wad anak 1 malam. Lain ceritanya kalo kita pergi ke klinik / hospital di luar Kerajaan. Ini chargenya lumayan mahal.

→ Di Indonesia banyak istilah ‘yang boleh sakit cuma orang2 yang berduit’. Apa halnya? Karena biaya berobat mahal. Bagi warga yang ga mampu dan pake Jamkesmas, gw banyak tuh mendengar cerita2 mengenai mereka2 yang tidak mendapakan pelayanan dengan baik dari pihak RS. Untuk berojol dengan operasi, di Singkawang ajah yang kota kecil Tantenya Abang kena 7 jeti, Bibi gw di Serang pake laser kena 18 jeti, apalagi di Jakarta. Ini juga yang memperkuat alasan gw dan Abang untuk bikin anak di M’sia ajah hohohoho.

2. Transportasi Umum

→ Susah kalo ga punya kendaraan disini. Emang seh ada bus, tapi ga menjangkau ke semua wilayah. Maksud gw bus nya ga masuk ke kompleks perumahan. Kalo yang rumahnya deket jalan mah enak, tinggal cari halte terdekat, ngendon bentar nunggu bus dateng, naik deh ampe tempat tujuan. Lah gw tinggalnya di dalem kompleks, mo jalan ke halte bus yang ada keburu gempor secara jauh banget haltenya. Disini ada juga taxi dan kereta sapu (baca: angkot / taxi gelap), tapi lumajan mahal. Itulah sebabnya gw belanjanya seminggu sekali nunggu Ayahnya Zahia pulang dinas luar, nyetok bahan pangan untuk seminggu.

→ Di Indonesia mulai dari kendaraan umum beroda dua (ojeg motor ato sepeda), beroda tiga (becak, bajaj, bemo), beroda empat (angkot, elep / mini bus, taxi), beroda lima (ojeg becak kaya di Medan ato Riau) beroda banyak (bus, kereta api), ampe yang ga beroda (ojeg gendong) [pegel booooo], berkeliaran dimana2 dan mudah ditemui dari pelosok2 desa ampe kota besar.

3. Fasilitas Rekreasi Umum

→ Dibanding Bintulu yang fasilitas untuk rekreasinya cuma beberapa biji, di Miri banyak banget bertebaran tempat2 rekreasi. Ada Miri City Fan, Taman Bulatan, Taman Awam, dan taman2 lainnya. Masuknya gratis, tempat bersih, terawat, enak buat piknik karena ga ada sampah nan bau disana-sini, banyak permainannya, juga tempat berolahraga. Di Taman Awam, malah ada jembatan gantung (canopy bridge), kolam bermain anak, tempat barbeque dimana panggangannya udah tersedia jadi para pemirsa tinggal membawa daging, ikan, ato ayam sendiri. Kalo playground jangan ditanya, buanyaaaakkkkkk banget. Ga cuma di taman2 rekreasi, di tempat2 umum kaya pantai, pinggiran kompleks, rata2 ada playground. Lumayan lah kalo mo bawa anak main2 ayunan, perosotan, panjat2an, dll. Oya, di M’sia ini juga sangat tertib. Ga ada tuh yang namanya pedagang asongan dan kaki lima. Kalo mo jualan, kudu ada izin dulu, kalo kaga bisa langsung ditangkep sama Polisi ato at least Kamtibmas. Buang sampah sembarangan? Rasakan akibatanya jika diketahui petugas, kecuali kalo pas buangnya ga keliatan sapa2 [hihihi bandel].

→ Jangankan yang gratis, yang masuknya bayar ajah kaya Pantai Ancol, perasaan setiap liburan anak sekolah ato taun baru, gw liat di tipi timbunan sampah lebih banyak dari pasir di pantainya. Apalagi kalo gratis, duh pasti banyak gepeng, ateng, sapiteng ngumpul disono, dan menjadikannya tempat tinggal. Seperti budaya ‘membuang sampah pada tempatnya’ belum jadi budaya negeri kita tercinta.

Segituh ajah dulu yang gw jabarkan. Gw dan Abang, memiliki prinsip bahwa dimanapun berada, entah di negeri pertiwi ato negara orang, harus dibetah2in. Kuncinya adalah adaptasi. Semua tempat pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Kalo bentar2 mewek pengen pulang kampung karena kangen ortu lah, kangen masakan rumah lah, kangen ini itu lah, yang ada jebol bo keuangan negara. So, bagi yang sedang merantau, yuks mari kita beradaptasi dengan tempat kita berpijak sekarang, dan jangan lupa selalu menjaga kehormatan bangsa kita sendiri. Jangan ampe jadi kacang lupa kulitnya yah.
Lanjuuut Maaaang - Kenapa Lo betah Tinggal Disana?

Friday, 29 January 2010

Pembangunan HTI & Industri Hilirnya

Industrial Planted Forest atau Hutan Tanaman Industri merupakan salah satu jenis Plantation yang sedang sangat berkembang pesat di dunia. Beberapa negara yang memiliki potensi untuk mengembangkannya sudah dengan sangat agresif berupaya untuk terus memperluas kebun yang ada. Di Indonesia sendiri HTI sudah dilengkapi dengan pabrik yang siap untuk memproduksi kayu menjadi bahan olahan yang lain. Setidaknya di Sumatera sudah ada 5 pabrik pulp & paper dengan skala raksasa, di Jawa terdapat beberapa pabrik olahan pulp untuk dijadikan paper / tissue, di Kalimantan ada juga pabrik pulp & paper. Selain sebagai pulp & paper, kayu keluaran dari HTI juga bisa dijadikan bahan furniture seperti HTI di Kalsel yang mengkhususkan diri untuk furniture. Ada juga perusahaan yang mengolahnya menjadi core (isi) plywood / veneer.

Setiap perusahaan HTI menanam berbagai jenis tanaman, tergantung dari industri hilirnya. Beberapa jenis tanaman yang sangat familiar di dunia HTI adalah : Acacia mangium, Acacia crassicarpa, Eucaliptus pelita, Eucaliptus deglupta, Khaya senegalensis, Khaya ivorensis, Melia dubia, Paraserianthes falcataria, Melaleuca leucadenron, Hevea braziliensis, Alstonia scholaris, Alstonia macrophylla, Melaleuca cajuputi, Pinus merkusii, Pinus radiata, dll. masih banyak lagi. Kebanyakan species yang ditanam ini adalah fast growing species. Untuk kepentingan pulp & paper biasanya di panen pada usia 5 - 6 tahun. Kalau untuk furniture antara 10 - 15 tahun. Kebun dengan masa panen yang pendek seperti untuk pulp & paper cenderung lebih simple dibandingkan dengan untuk kepentingan furniture & plywood / veneer.

A. Pulp & Paper
Kebun yang di desain sebagai penyedia raw material pulp & paper biasanya memiliki schedule :

- Site preparation (biasanya spreading menggunakan excavator)
- Pre Plant Spraying (chemical weeding)
- Planting
- Blanking adalah mengganti tanaman yang mati (1 bulan setelah tanam)
- Slashing & Spraying (1 tahun 3 - 4 kali) & terakhir pada usia 18 bulan
- Singling usia 4 - 7 bulan

Setelah itu semua maka kebun di biarkan tanpa maintenance lagi, hanya pengecekan rutin untuk hama & penyakit serta patroli rutin kebakaran.

B. Furniture & Plywood / Veneer

- Site preparation (banyak sekali metodology yang sekarang berkembang)
- Weeding before planting
- Planting
- Slashing & Spraying sampai berusia 3 tahun
- Circle Weeding 2 kali setahun
- Singling
- Pruning sampai berusia 3 tahun (setiap tahun)
- Thining dimulai pada usia 3 tahun dengan persentase 50 %
- Decreaping dari 4 sampai 10 tahun

Untuk kayu yang dipersiapkan bagi keperluan furniture harus memiliki kriteria lurus, diameter besar dan seragam, tidak memiliki mata kayu, tidak busuk ditengah, di upayakan tidak bercabang.

Ini merupakan regime standar pengelolaan kebun secara garis besarnya pada beberapa perusahaan besar di Indonesia maupun Malaysia. Untuk aplikasi tambahannya disesuaikan dengan keperluan dan kondisi kebun, seperti pemberian micro nutrient bagi tanaman yang secara keseluruhan memiliki masalah dengan pertumbuhan karena site / tapak tumbuh kurang mendukung. Kemudian jika banyak terdapat pisang hutan atau keladi liar atau anakan hutan lainnya maka dapat dilakukan woody growth poisoning secara spesifik kepada jenis gulma yang ada.

Tulisan ini dibuat lebih kepada tujuan untuk mengingat kembali semua aktifitas yang biasa kami lakukan di beberapa perusahaan HTI yang pernah kami geluti. Semoga bermanfaat.

Salam Rimba,
Zulfadhli HM
Marudi - Sarawak
Lanjuuut Maaaang - Pembangunan HTI & Industri Hilirnya

Tuesday, 26 January 2010

Plantation : HTI & Reforestation

Sustainable Forest Management adalah pokok bahasan hangat yang diperbincangkan dan diperdebatkan dalam jangka yang cukup lama dan panjang. Membicarakan tentang kelestarian hutan merupakan "fenomena" yang tak kunjung usai. Kenapa? Karena banyak sekali yang berkepentingan terhadap keberadaan hutan.

Indonesia sendiri sudah mengembangkan hutan ke dalam 2 karakter, yaitu Hutan Alam (Hak Pengusahaan Hutan - HPH) dan Hutan Tanaman (Hutan Tanaman Industri). Pada paparan kali ini saya hanya ingin membahasnya secara garis besar saja.

1. Indonesia
Di negara kita, pengelolaan hutan menjadi HTI dimulai sejak awal atau medio 1980-an. Ketika itu kondisi hutan tidak separah saat ini, kondisi politik sangat menentukan siapa yang berhak mengelola dan menguras hasil hutan. Bahkan pada Era Soeharto ada Hak Pengusahaan HTI yang diberikan kekuasaan mengelola hutan hingga 100 tahun di Kaltim - Kab Bulungan. Maka pada awal pembangunan HTI di Indonesia yang terjadi adalah Hutan Alam diubah fungsinya menjadi Hutan Tanaman, sedangkan saat ini Hutan Tanaman adalah merubah lahan tidur / kurang produktif menjadi lahan berguna.
Pengertian dari Hutan Tanaman Industri saat ini menjadi lebih sesuai ketimbang penggunaan istilah tersebut pada awal 1980-an. Pada zaman Soeharto banyak sekali pengusaha kayu yang menjadi orang dekat Cendana. Mereka ini membuat banyak sekali perusahaan HTI di seluruh Indonesia dari Aceh sampai Papua yang lebih bermotifkan atau berorientasi Kayu Alam, setelah 2 - 5 tahun beroperasi, dengan menanam hutan tanaman ala kadarnya mereka secara yuridis menyatakan "Bangkrut" dan tidak mampu beroperasi lagi, sehingga yang tertinggal kemudian adalah hutan dengan kondisi yang sangat mengenaskan dan rusak parah. Ekologi dan ekosistem hutan mengalami degradasi yang sangat luar biasa. Puncak kemerosotan ini terjadi pada saat jatuhnya Soeharto dan berakibat kepada banyaknya pengusaha kayu berkedok HTI kolaps, karena tidak punya pegangan lagi. Ketika periode 1998 - 2005 banyak sekali perusahaan yang di "Lego" alias take over atau dilelang paksa. Dampak yang lebih parah lagi terjadi pada lapisan bawah (masyarakat lokal). Ketika gelombang reformasi terjadi, mereka seolah-olah mendapatkan justifikasi bahwa mereka berhak atas semua tanah yang ada di kampung, kecamatan, kabupaten atau provinsi, jadi mereka tidak mengakui lagi Hutan sebagai milik Negara. Hal ini tentu berakibat fatal pada Resistensi terhadap semua investor / perusahaan / pengusaha.
Hutan Tanaman Industri di Indonesia sekarang terus berkembang pesat dengan 1001 masalah yang menghadapi. Kebijakan publik & negara membuat pengusaha sering kali pada posisi sulit dan soliter. HTI sebenarnya adalah pengelolaan suatu kawasan untuk dijadikan area penyediaan bahan baku (kertas, pulp, furniture, dll) secara lestari dan berkesinambungan. Sehingga memerlukan suatu kepastian usaha dari pemerintah dan masyarakat setempat, karena merupakan investasi jangka panjang dan komprehensif. Hal ini berbeda dengan HPH yang setelah mengambil kayu dan melakukan penanaman ala kadarnya lalu pergi tak tahu rimbanya.

2. Malaysia
Pengelolaan Hutan dan SDA Hutan di Malaysia sangat luar biasa (massive operation). Jengkal demi jengkal tanah yang tersedia di kendalikan oleh Negara secara utuh. Sebagai sebuah Negara Islam Beraja, maka seluruh SDA yang berada di Malaysia adalah merupakan milik Sultan. Perkembangan Malaysia saat ini secara jujur harus di akui melampaui pencapaian Indonesia. Pada tahun 1970 - 1980an banyak sekali mahasiswa Malaysia yang belajar di seluruh Universitas2 di Indonesia. Sehingga saat ini kita masih banyak menjumpai pejabat / orang penting di Malaysia dengan gelar Ir., Drs., Dra., SH, dll.
Pengelolaan Hutan & Tanah di atur secara komprehensif oleh setiap Negara Bagian (Malaysia adalah Negara Federal). Setiap Negara Bagian memiliki Sultan. Bagi negara bagian yang tidak memiliki Sultan seperti Sabah & Sarawak, maka mereka memiliki TYT atau Tuan Yang diper-Tua negeri. Sultan & TYT adalah pemegang kekuasaan absolute atas Tanah & Hutan. Dengan pola seperti ini maka konflik dan masalah sosial dapat diredam. Pengelolaan Hutan Alam lebih familiar disebut Logging Operation, sedangkan Pengelolaan Hutan Tanaman sering disebut sebagai Reforestation. Logging Operation di Sarawak khususnya sudah pada level yang sangat memprihatinkan, karena sudah mengambil kayu dengan diameter 20cm up. Lokasi kerja mereka juga berada pada lokasi border Indonesia - Malaysia. Hal ini yang membuat banyak Illegal logging dan semua kayu masuk ke Malaysia secara bebas. "Cukong" dan "Taoke" adalah bahasa atau hal biasa di areal perbatasan. Siapa yang untung???? Dan siapa yang rugi ????
Reforestation sendiri adalah instrument yang baru diperkenalkan sekitar tahun 1997 oleh Forest Department. Dalam kenyataannya, hampir semua perusahaan kayu (logging) yang sudah diwajibkan oleh pemerintah Malaysia untuk membuat Reforestation belum berjalan optimal. 10 tahun sudah berlalu, kualitas dari tanaman dahulu belum tahu mau dibawa kemana, belum ada industri yang menggunakan produk ini secara nyata. Sehingga terbersit didalam angan bahwa Reforestation hanyalah prasyarat untuk mendapatkan izin Logging dan atau sebagai Department yang hanya memanfaatkan lahan yang tidak dapat atau tidak mau ditanam oleh Palm Oil (Sawit) Department.
Dalam Ilmu Kehutanan Reforestation / Reforestasi adalah bermakna menghutankan kembali areal yang gundul atau rusak dengan berbagai tanaman hutan atau tanaman kehidupan dan selanjutnya ditinggalkan agar terjadi regenerasi secara alami. Sedangkan Hutan Tanaman Industri adalah pola pengeloaan lahan hutan secara berkelanjutan dalam kurun waktu konsesi yang sudah di tetapkan untuk penyedian raw material pada jenis usaha yang sudah ditetapkan. Hal inilah yang membuat pengertian dari HTI & Reforestation berbeda nyata. Tetapi apalah artinya Terminology dan segala perdebatan mengenai perbedaannya.

So, buat rimbawan atau forester yang berniat meniti karier di Malaysia, semoaga tulisan ini bisa menambah pengetahuan tentang perbedaan terminology dan juga termasuk plantation culture antara Indonesia & Malaysia. Semoga Bermanfaat.

Salam Rimba,
Zulfadhli HM
Miri - Sarawak
Lanjuuut Maaaang - Plantation : HTI & Reforestation

Friday, 8 January 2010

Belanja ... Yuuuuukk Mariii

Awal2 kami tiba di Sarawak, Malaysia dan pergi belanja untuk pertama kalinya, gw sangat2 takjub ngeliat harga barang2 disini. Gimana ga, masa kangkung 1 kg harganya RM 3,50 which is kalo di-rupiahkan dengan kurs sekarang adalah Rp 9.275,-. GUBRAGG!! Pengen pingsan ga seh! Wong kangkung kalo di Singkawang tempat laki gw 3 iket cuma seribu rupiah. Lucunya lagi, belanja di tradisional market dengan di mall / supermarket ko lebih murah di mall. Heran beribu heran gw dibuatnya. So, kebiasaan baru yang gw ga pernah lakukan di Indonesia adalah setiap belanja gw pasti bawa kalkulator [bukan kalkulator engkong2 yang segede bagong itu yah, tapi pake henpon ajah]. Semua barang dikonversi dulu ke Rupiah, ditimbang2 secara seksama, dipikirkan matang2, lalu diputuskan secara bijak apakah perlu dibeli atau tidak. Hehehe, kopet-markopet banget deh pokonya! Meskipun demikian, ada juga barang2 yang justru lebih murah jika dibandingkan dengan di Indonesia. Gula contohnya. Disini harga 1 kg gula putih adalah RM 1,6 (=Rp 4.240,-).

Sebagai istri merangkap Manager Keuangan, tentu ajah gw harus sepandai mungkin mengelola gaji suami kalo ga mau tekor di akhir bulan. Dengan harga2 yang mehong, gw pun memutar otak dan mengakalinya dengan cara:

# Selalu membeli barang yang saat itu sedang murah. Biasanya ada label “Best Buy” pada bagian barang2 yang diskon
# Setelah melakukan survey di semua tempat belanja di Bintulu, gw jadi tahu bahwa untuk sayur-mayur lebih murah di Farley, sembako di New World Mall (supermarket), perlengkapan baby di Sing Kwong. Kalau di Miri, Boulevard Mall agak lumayan murah juga harganya. So, meskipun agak repot karena harus singgah di beberapa tempat, tapi gw teteup rela ko berkeliling demi menghemat beberapa Ringgit.
# Menanam berbagai tanaman yang bisa ditanam [pusing yah bacanya?!]. Secara anak IPB gitu loh jadi ilmu yang telah ditimba selama 4 tahun kurang beberapa bulan di Kota Hujan akhirnya diamalkan juga dalam kehidupan sehari2. Sampai saat ini gw berhasil dengan sukses menanam: tomat (udah berbuah 3x meskipun kecil2); kangkung; cangkok manis / daun katuk; daun ubi; kapur sirih; serai; kencur; kunyit; labu (ampe sekarang kaga berbuah); cabe (sama nasibnya kaya labu).

Dengan metode yang gw & suami terapkan, alhamdulillah pengeluaran yang dulu sempet bikin pusing kepala sekarang berangsur2 normal. Meskipun teteup ajah kalo total pengeluaran kami sebulan dikonversi ke Rupiah ko jadinya gede juga. Hiks! Berikut list harga barang dan pengeluaran lainnya di Bintulu (tapi gw ga akan menulis brand dari suatu produk), sebagai bahan pembanding dengan harga di Indonesia:

*Note: Seluruh harga dalam Ringgit Malaysia (RM)
Currencies per 5 Januari 2010 ► 1 RM = Rp 2.650,-

1. Beras (yang paling murah) Per 10 Kg ..... RM 22,00 (= Rp 58.300,-)
2. Minyak Goreng 1 Kg .....RM 2,75 (= Rp7.288,-)
3. Gula Putih 1 Kg ..... RM 1,60 (= Rp 4.240,-)
4. Gula Merah 1 Kg ..... RM 8,00 (= Rp 21.200,-)
5. Air Mineral 1 Box (12 Botol) ..... RM 10,00 (= Rp 26.500,-)
6. Tepung Gandum 1 Kg ..... RM 2,80 (= Rp 7.420,-)
7. Tepung Beras 1 Kg ..... RM 2,10 (= Rp 5.565,-)
8. Roti Tawar 1 Pack (230 Gr) ..... RM 2,50 (= Rp 6.625,-)
9. Mie Telur 1 Pack (200 Gr) ..... RM 1,50 (= Rp 3.975,-)
10. Mentega 1 Pack (500 Gr) ..... RM 2,30 (= Rp 6.095,-)
11. Terasi 1 Pack (150 Gr) ..... RM 1,50 (= Rp 3.975,-)
12. Garam Halus 1 Pack (450 Gr) ..... RM 0,60 (= Rp 1.590,-)
13. Bawang Merah 1 Kg ..... RM 4,50 (= Rp 11.925,-)
14. Bawang Putih 1 Kg ..... RM 4,50 (= Rp 11.925,-)
15. Cabe Kering 1 Kg ..... RM 9,50 (= Rp 25.175,-)
16. Cabe Rawit 1 Kg ..... RM 25,00 (= Rp 66.250,-)
17. Cabe Merah (besar) 1 Kg ..... RM 25,00 (= Rp 66.250,-)
18. Kelapa Parut Tua 1 Kg ..... RM 3,00 (= Rp 7.950,-)
19. Kacang Tanah 1 Kg ..... RM 5,80 (= Rp 15.370,-)
20. Kacang Hijau 1 Kg ..... RM 5,50 (= Rp 14.575,-)
21. Kacang Panjang 1 Kg ..... RM 3,50 (= Rp 9.275,-)
22. Jagung Muda 1 Pack (6 pcs) ..... RM 2,00 (= Rp 5.300,-)
23. Terung Ungu 1 Kg ..... RM 8,00 (= Rp 21.200,-)
24. Sawi 1 Kg ..... RM 4,50 (= Rp 11.925,-)
25. Kol 1 Kg ..... RM 3,90 (= Rp 10.335,-)
26. Ketimun 1 Kg ..... RM 2,80 (= Rp 7.420,-)
27. Tomat 1 Kg ..... RM 6,90 (= Rp 18.285,-)
28. Kangkung 1 Kg ..... RM 3,50 (= Rp 9.275,-)
29. Kentang 1 Kg ..... RM 2,80 (= Rp 7.420,-)
30. Bayam 1 Kg ..... RM 4,50 (= Rp 11.925,-)
31. Wortel 1 Kg ..... RM 3,20 (= Rp 8.480,-)
32. Buncis 1 Kg ..... RM 3,50 (= Rp 9.275,-)
33. Daun Bawang 1 Kg ..... RM 13,00 (= Rp 34.450,-)
34. Bunga Kol 1 Kg ..... RM 7,00 (= Rp 18.550,-)
35. Brokoli 1 Kg ..... RM 10,00 (= Rp 26.500,-)
36. Ubi Merah 1 Kg ..... RM 4,20 (= Rp 11.130,-)
37. Labu Kuning (Pumpkin) 1 Kg ..... RM 2,50 (= Rp 6.625,-)
38. Jahe 1 Kg ..... RM 5,80 (= Rp 15.370,-)
39. Kunyit 1 Kg ..... RM 8,00 (= Rp 21.200,-)
40. Kemiri 1 Kg ..... RM 10,00 (= Rp 26.500,-)
41. Pisang Kepok 1 Kg ..... RM 3,00 (= Rp 7.950,-)
42. Pepaya 1 Kg ..... RM 2,70 (= Rp 7.155,-)
43. Melon 1 Kg ..... RM 3,50 (= Rp 9.275,-)
44. Semangka 1 Kg ..... RM 2,00 (= Rp 5.300,-)
45. Jambu Batu 1 Kg ..... RM 4,20 (= Rp 11.130,-)
46. Tempe 1 Pack (150 Gr) ..... RM 1,20 (= Rp 3.180,-)
47. Ikan Teri 1 Kg ..... RM 24,00 (= Rp 63.600,-)
48. Ikan Kembung 1 Kg ..... RM 7,00 (= Rp 18.550,-)
49. Ikan Sarden 1 Kg ..... RM 8,00 (= Rp 21.200,-)
50. Cumi 1 Kg ..... RM 8,00 (= Rp 21.200,-)
51. Kerang 1 Kg ..... RM 10,00 (= Rp 26.500,-)
52. Udang Kecil 1 Kg ..... RM 6,00 (= Rp 15.900,-)
53. Udang Besar 1 Kg ..... RM 16,00 (= Rp 42.400,-)
54. Bakso Ikan 1 Kg ..... RM 8,00 (= Rp 21.200,-)
55. Telur 1 Tray (30 butir) Grade C ..... RM 8,90 (= Rp 23.585,-)
56. Telur Puyuh 1 Pack (12 butir) ..... RM 4,50 (= Rp 11.925,-)
57. Telur Asin 1 Butir ..... RM 0,70 (= Rp 1.855,-)
58. Ayam Potong 1 Kg ..... RM 7,90 (= Rp 20.935,-)
59. Daging Sapi 1 Kg ..... RM 28,00 (= Rp 74.200,-)
60. Daging Kambing 1 Kg ..... RM 16,50 (= Rp 43.725,-)
61. Tulang Sapi (Leher) 1 Kg ..... RM 18,00 (= Rp 47.700,-)
62. Hati Sapi 1 Kg ..... RM 15,00 (= Rp 39.750,-)
63. Minyak Tanah 1 Ltr ..... RM 1,70 (= Rp 4.505,-)
64. Bensin & Solar 1 Ltr ..... RM 1,70 (= Rp 4.505,-)
65. Gas Isi Ulang 1 Tabung (14 Kg) ..... RM 22,00 (= Rp 58.300,-)
66. Tabung Gas Baru + Isi (14 Kg) ..... RM 82,00 (= Rp 217.300,-)
67. Tiket Bioskop (Hari Biasa) ..... RM 10,00 (= Rp 26.500,-)
68. Tiket Bioskop (Nomat) ..... RM 8,00 (= Rp 21.200,-)
69. Tiket Kolam Renang Anak2 ..... RM 1,00 (= Rp 2.650,-)
70. Tiket Kolam Renang Dewasa ..... RM 2,00 (= Rp 5.300,-)
71. Potong Rambut Salon Biasa ..... RM 10,00 (= Rp 26.500,-)
72. Potong Rambut Salon di Mall ..... RM 15,00 (= Rp 39.750,-)
73. Klinik Kerajaan Penduduk Asli ..... RM 1,00 (= Rp 2.650,-)
74. Klinik Kerajaan Foreigner ..... RM 15,00 (= Rp 39.750,-)
* Di Klinik Kerajaan bayaran tsb sudah termasuk biaya dokter, obat, imunisasi, pap smear, check lab., rontgen, dan semua perlakuan medis lainnya
Lanjuuut Maaaang - Belanja ... Yuuuuukk Mariii

Wednesday, 2 December 2009

Lebih Murah di Indonesia atau Malaysia??

Fiuhhhhh….setelah 6 bulan kami mengajukan Pas Lawatan Sosial (PLS 12 bulan) Nyokap ke Imigresen Malaysia Negeri Sarawak (diajukan tanggal 14 Mei 2009) akhirnya hari ini, Selasa, 1 Desember 2009 kami mendapatkan kabar gembira. Permohonan Nyokap diluluskan. Alhamdulilllah ya Allah. Terlepas dari kenyataan bahwa sebenarnya ini sudah molor 3 bulan dari masa yang dijanjikan (karena di “Akuan Penerimaan” tertulis bahwa keputusan akan diketahui selepas 90 hari bekerja yang artinya = 3 bulan), juga kenyataan bahwa kami sudah membayar RM 400 untuk perpanjangan social visit selama 4 bulan (RM 100/bulan), tapi kami tetap bersyukur.

Sekedar flashback, Nyokap datang bulan April. Dari awal kita wanti2 supaya dari Indonesia Nyokap mengurus Single Entry Visa yang berlaku 3 bulan di Kedutaan Malaysia di Jakarta (kalau Dependent Pass ataupun Pas Lawatan Sosial memang diurusnya di Malaysia). Bukan apa-apa, belajar dari pengalaman gw yang saat pertama datang kesini ga punya Single Entry Visa, lalu mengurusnya disini, kami harus membayar sebesar RM 650 (dengan tambahan RM 300 karena selama 3 bulan gw harus melakukan perpanjangan social visit. So total adalah RM 950). Bandingkan dengan mengurus di Jakarta dimana Nyokap hanya membayar Rp 51 rb dengan perincian beli formulir pendaftaran 3 rb + Single Entry Visa 48 rb (berlaku 3 bulan), atau di Pontianak saat kami mengurus untuk Zahia yang hanya membayar Rp 43 rb (berlaku 1 bulan). MANTABS BUKAN SODARA2 PERBEDAANNYA???

Selama kurang lebih 1 tahun 3 bulan 17 hari menjadi penduduk Sarawak (Ayah & Bunda datang Agustus tahun lalu, lalu Zahia menyusul dari perut Bunda di bulan oktober), kami jadi mengetahui ada hal-hal yang lebih murah jika diurus di Indonesia, atau malah lebih murah jika diurus di Malaysia. Seperti :

SIM (Surat Izin Mengemudi)

Ayah Zahia SIM-nya adalah SIM Kalimantan Barat. So ketika disini kebagian mobil dinas tanpa driver, itu berarti laki gw harus punya SIM Malaysia / SIM Internasional terlebih dahulu kalau mau berkeliaran kemana-mana [kecuali kalo mau “kenalan” sama polisinya Malaysia].

Peraturan disini, kalau mau bikin SIM kudu harus musti wajib ikut yang namanya “Kursus Memandu”. Tanpa pandang bulu, apakah lo berbulu atau tidak…..ups!!!….maksudnya apakah lo udah jago bawa mobil, atau dah biasa narik taxi, atau baru belajar pegang setir, semuanya teteup harus ikut kursus tersebut (kursusnya mulai dari teori, table test, praktek, ujian). So, overall biaya kursus sampai dapat SIM Malaysia di tangan adalah sebesar :[jreng….jreng….jreng….mohon yang punya penyakit jantung sudah menyiapkan obat di sebelahnya]

RM 1.300 (=Rp 3.64 jt jika diasumsikan 1 RM = Rp 2.800,-).

Dan tahukah sodara-sodara, setelah mengeluarkan uang sebanyak ini, Beliau baru mendapatkan SIM P yaitu SIM Percobaan. Barulah jikalau lulus masa percobaan 2 tahun maka SIM P (Probationary driving licence) diganti menjadi SIM kompeten (Competence driving licence), dan harus membayar RM 30 (=Rp 84 rb) per tahun untuk perpanjangan. What a wonderful world, isn’t it?!!

Well, Nyokap bikin SIM Internasional di Jakarta, berlaku untuk 1 tahun, hanya membayar Rp 600 rb

[$@%&*?*&@#.......urut dada 3x sambil menghela nafas berat]

KESIMPULAN : Murah di Indonesia [kalau ga percaya hitung sendiri yah]

Passport


Gw membuat passport 1 tahun yang lalu di Singkawang, Kalimantan Barat via agent - biro jasa illegal (baca: calo) bayar Rp 500 rb. Zahia bikin di Kuching hanya kena biaya RM 18 (= Rp 50.400,-) [gggrrrrrrr…..garuk2 tembok!!]
KESIMPULAN : Murah di Konsulat jendral RI Kuching Malaysia

Akte Kelahiran

Zahia bikin Akte Kelahiran di Bintulu tidak dipungut bayaran alias free, dan selesai dalam waktu 10 menit (karena semua dokumen sudah lengkap, hanya mengisi formulir). Gw ga tau seperti apa prosedur bikin Akte di Indonesia & bayar / gretongan, jadi ga bisa membandingkannya. Any opinion about this??

Seperti kata pepatah, “Lain Lubuk Lain Belalang, Bujang Lapuk Hidungnya Belang” [plizzzz deh Bun, mana ada pepatah kaya gituh!!!!!] …… maksud gw, karena udah malam dan asli gw ngantuk + laper [ga nyambuuuunnngggg], so untuk hal-hal lain yang berkenaan dengan banding-membanding antara tanah air tercinta dengan tanah perantauan tersayang ini akan gw lanjutkan pada session berikutnya. Nite! Have a nice dream

Lanjuuut Maaaang - Lebih Murah di Indonesia atau Malaysia??