Sunday, 18 April 2010

Mudik Harus Cerdik

Kemarin, gw ber-sms-an ria dengan seorang sahabat. Kami berdua sama2 tergabung di GT batch 4 PT. RAPP dan ditempatkan di Bisnis Unit yang sama waktu selesai menjalani 9 bulan masa training. Mira namanya. gw dan Mira memiliki beberapa kesamaan: sama2 beruntung karena ditempatkan di Tidung Pala nun jauh di ujung dunia; merid dengan waktu yang berdekatan, Mira November, gw Januari; punya anak yang umurnya ga beda jauh, cuma selisihan 3 bulan ajah [secara gw ngambil paket cepat waktu hamil Zahia]. Meskipun terpisahkan jarak ratusan kilometer atau bahkan lebih seribu kilometer, Mira di Riau dan gw di Miri, tapi Alhamdulillah acara ngerumpi tetap berjalan seperti biasa. Apa lagi topik utamanya kalo bukan tentang anak dan keluarga.

From : +6012850xxxx
Sent to : +62812754xxxx
Ummu Zahran, apa kabar? Lagi sibuk yah di kantor? Gimana Zahran dah bisa apa ajah sekarang? Giginya udah berapa? Zahia mah giginya belum nambah lagi. Btw Lebaran mudix kemana Jeng? Padang ato Bandung? Insya Allah gw mudix 2 minggu-an ke Bandung, yang 1 minggu lagi di Singkawang.

From : +62812754xxxx
Sent to : +6012850xxxx
Wass, Bunda Aya. Lagi di kantor nih ngecek amprahan dari sector. Mumet!! Zahran sehat, dah pinter lari, teriak2, mulai belajar kata2. Kalo gigi masih 6, belum nambah lagi.

From : +6012850xxxx
Sent to : +62812754xxxx
Zahia kalo perbendaharaan kata2 yah masih itu2 ajah [sebelumnya udah pernah gw certain ke Mira kalo Zahia udah bisa ngomong: Ayah, Papa, Papi, Mama, gapapa, tak ada, udah, ga, nenen, mamam, nyamnyam, minta, jatuh, pipi, baby, duck, truck, pup, turtle]. Sekarang hobi baca buku. Kalo gw tanya mana pohon ato rumah, langsung nunjuk2 ke buku, gambar yang gw maksud. Btw belom dijawab pertanyaan gw lo tar mudik kemana?

From : +62812754xxxx
Sent to : +6012850xxxx
Kalo rencananya seh ke Padang ajah San, tapi ga tau deh kalo tar ada perubahan. Lagi bokek soalnya. Hehehe......

Mudik. Menjelang Hari Raya, khususnya Lebaran, kata2 ini menjadi sangat populer di Indonesia. Semua orang berusaha untuk pulang ke kampung halaman, entah ada uang ato tidak, naik kendaraan pribadi ato angkutan umum, bawa oleh2 ato hanya berlenggang kangkung, yang penting pulkam. Bagi yang udah berkeluarga (baca: merid), perihal mudik ini menjadi lebih rumit lagi. Kalo rumah orang tua dan mertua masih dalam satu area ga begitu bermasalah, nah kalo udah beda kota, beda pulau, apalagi beda negara, mudik menjadi satu hal yang tidak pasti, dan lebih ribet daripada ujian Mikrobiologi Dasar yang soalnya bisa memacu mahasiswa/i melakukan tindakan brutal, seperti memberikan obat tidur dosis menengah kepada pengawas supaya bisa buka buku catatan.

Gw dan hubby, nasibnya hampir mirip Bang Toyib. Dua kali Lebaran kaga pulang2. Dua taun lalu (2008), gw dan Abang Lebaran-an di Bintulu. Kenapa? Karena Idul Fitri jatuh pada bulan Oktober, sedangkan Abang baru bekerja selama ± 2 bulan [kami datang ke Sarawak bulan Agustus pertengahan]. Ga mungkin dunks orang baru masuk kerja udah minta cuti. Mo dijitak apa sama engkong pemilik perusahaan?! Sedih rasanya Lebaran jauh dari orang tua. Ini 1st time gw kaga sungkeman sama Nyokap dan keluarga besar. Dulu, jaman masih single, kerja dimanapun gw pasti pulkam, at least 3 hari sebelum Lebaran. Setelah selesai sholat Ied di Masjid Jepak dan bersalam2an dengan para jamaah lainnya, kami pulang ke camp, lalu bersilaturahmi ke tempat pekerja nursery di barak perusahaan, karena disanalah tempat pekerja2 Indonesia. Kami mendatangi setiap rumah, dimana Tuan Rumah mengharuskan kami makan ketupat + opor ayam + hidangan lainnya seperti puding, sirup, kue2. Bayangin bo, harus makan di setiap rumah! Baru sampe rumah ke-3 gw menyerah karena tembolok udah penuh ga ada lagi space untuk menampung makanan2 enak itu. Sedangkan Abang, demi menghargai anak buahnya, maka bela2in tetap makan walopun secuil. Singkat kata, 2 jam kemudian, kami pulang ke rumah dalam keadaan kenyang bukan main, langsung menuju kamar. Eits, jangan berpikiran yang mboten2 yah Temans, kami ke kamar bukannya mo bercinta tengah hari bolong pada hari nan fitri ini, tapi buat tidur. Ya iyalah hai, kalo kekenyangan apalagi yang paling enak buat dilakukan selain tidur [perilaku buruk ini jangan ditiru sodara2 karena tidur setelah makan tidak baik untuk kesehatan].

Sungguh rasanya bukan seperti Lebaran. Apalagi di camp, tetangga sebelah rumah yang cuma 2 biji itu adalah orang2 non-muslim. Sore hari, kami mengundang Mr. Indihe, serta Mr. Phillipino dan yayang, untuk makan di rumah. Menunya sederhana ajah: ketupat + opor ayam + tulang sapi masak santan + puding coklat + es kelagar (kelapa muda yang ditambahkan agar2). Untuk cemilan kami membeli kue lapis produk Indonesia + permen coklat. Berlima kami menghabiskan waktu dengan makan, minum, ngerumpi, sampe adzan magrib berkumandang di televisi. Oya, sebenernya kami mengundang pekerja2 Indonesia itu untuk datang ke rumah, tapi ga ada satupun dari mereka yang datang. Pas besoknya gw tanya banyak banget alasannya: jauh, cape kalo jalan sedangkan mereka ga ada kendaraan; males; ga ada temen yang mo nganter; sampe alasan malu ah main kesana. Walah, hari gini ko pake malu2 segala. Pasti dulu pas SD ga mengenal pepatah “malu bertanya sesat di mall”.

Lebaran taun 2009, kami mudik ke Singkawang. Koq ga ke Jawa sekalian, Jeng? Pertama, setelah mengocok arisan, kertas yang keluar berisi tulisan ‘Singkawang’, bukan ‘Pulau Jawa’. Kedua, Zahia belum ada setaun, masih riskan dibawa travelling jauh2 [betul ajah, pas malem takbiran Zahia justru demam ampe 39 derajat Celcius. Alhamdulillah sembuh 3 hari kemudian setelah dihajar terus2an pake ASI]. Ketiga, pertimbangan biaya. Kalo pulang ke Jawa, tentu persiapan dana harus lebih mantap lagi, secara pulang ke Jawa berarti harus menyambangi Cilegon (rumah Nyokap), Pandeglang (tempat Kakek Nenek_ortunya Nyokap), Jakarta & Bekasi (rumah Ua_kakaknya Nyokap), Bogor (tempat temen2 gw dan kampus tercinta) [ini mah kepengen reunian namanya], Bandung (tempat keluarga besar dan makam keluarga). Dengan schedule roadshow di beberapa tempat, kalo duitnya nanggung ato bahkan kurang, ya lebih baik ga usah dulu, ini prinsip gw dan Abang. Jadilah kami menghabiskan 3 minggu cuti di Singkawang dan Pontianak. Itupun sodara2, tabungan kami amblas, karena banyak sekali sanak family dan handai taulan yang harus diberi upeti, serta pengeluaran2 tak terduga lainnya yang bikin pening kepala. Hiks! FYI, 3 bulan setelah Lebaran, kami hidup ngos2an seperti pedagang kaki lima kena kejar satpol PP.

Lalu apa rencana Lebaran taun ini? Mo mudik kemana neh? Yup, kami kudu harus wajib musti pulang ke Jawa. Bukannya apa2, buyut, kakek, nenek, Ua, om, tante, sepupu2, keponakan, ipar, dan sebangsanya, yang berdomisili di Pulau Jawa, sama sekali belum pernah ngeliat Zahia. Kemaren, waktu gw dan Nyokap nelepon Kakek saat Beliau ultah yang ke-84, Kakek gw bilang “Kapan Zahia dibawa ke Pandeglang, San? Kakek kepengen banget liat cicit. Jangan lama2, tar Kakek keburu meninggal”. Hadohhh, berat ni urusannya kalo udah ngomong kaya gituh. Maka gw dan Abang, mulai sekarang, sudah mempersiapkan diri baik secara fisik maupun mental, dan tentu yang terpenting adalah finansial, demi menghadapi 5 bulan ke depan.

Gw jadi teringat obrolan dengan Mr. A, seorang teman di Indonesia yang sudah hijrah bekerja ke Malaysia. Kami berjumpa di suatu restaurant pinggir pantai malam minggu yang lalu. Beliau menceritakan tentang pengalaman mudiknya saat Natal 6 tahun yang lalu.
“Waktu itu saya dapet bonus dari perusahaan hampir 100 juta [hehehe ga usah ngiler denger seratus juta, Beliau kan GM], makanya saya ‘berani’ pulang ke Jawa membawa istri, anak (2 orang), ibu mertua, dan 1 orang adik ipar yang masih single. Pulang selama 3 minggu, saya menanggung semua biaya2 selama di perjalanan mulai dari tiket, makan di jalan, oleh2 untuk keluarga di Jawa, memberikan THR kepada orang tua dan adik2 [Bapak itu anak sulung dari 5 bersaudara], belanja keperluan sehari2 selama di rumah, isi bensin, bayar tol, dan segala pengeluaran lainnya. Kamu tau Zul…San, uang 100 juta bonus plus uang gaji plus tabungan, habis ga bersisa. Makanya, taun 2004 adalah terakhir kalinya saya mudik ke Jawa, setelah itu saya merayakannya di rumah saja (pulau Sumatera).”

Fuihhh, gw menarik napas dalam2, sambil berpandangan dengan Abang. Kebayang ga bo, Beliau ajah yang punya banyak nol di slip gajinya mikir selusin kali buat mudik, apalagi kami yang pas2an gini [pas2an buat beli emas batangan, pas2an buat beli mobil….hihihi booooong deng! Wong kami mah rumah ajah belom punya].

Ada lagi cerita teman Abang, sesama Forester di Riau. Mas B ini sudah merid dengan gadis Minang Bukit Tinggi. Mas B dibesarkan oleh Kakek Neneknya di Palembang, sedangkan ortunya menjadi transmigran di Kalimantan Tengah. Adik2nya yang lain diurus oleh Bude dan Pakde di Yogyakarta. Setelah istrinya hamil lalu melahirkan, Mas B ingin berniat pulang kampung saat Lebaran datang dengan tujuan mulia hendak memperkenalkan putra tercintanya kepada keluarga besar. Berhubung Mas B hanya mendapatkan jatah cuti dengan transport bus [bagi karyawan yang hometown nya di Pulau Sumatera maka jatah transportnya bus, berbeda jika di pulau lain mendapat jatah tiket pesawat], sedangkan dia berfikir bahwa kenyamanan anaknya yang baru berumur 6 bulan merupakan hal utama, maka dia memesan tiket pesawat ke Palembang, Garuda kelas bisnis, dengan uang sendiri. Begitu juga dengan tiket untuk pulang ke Yogyakarta dari Jakarta, dia membeli tiket kereta api kelas eksekutif, sedangkan dari Palembang ke Jakarta naik bis dan ferry. Perjalanan cuti yang melelahkan sekaligus mengasyikan itu, tenyata efeknya terasa sampai setaun kemudian. “Hihihihi, mudik yang dulu itu emang berefek panjang, Zul. Keuangan gw seperti kena tsunami. Gw ngutang banyak kekanan-kiri buat buat beli tiket dll, dan baru lunas Lebaran berikutnya. Makanya setelah itu gw Lebaranan di camp ajah, soalnya duit udah wassalam.”

Temans, siapa seh yang tidak merindukan kampung halaman dan bertemu dengan keluarga dan sanak sodora tercinta? Siapa yang ga kangen dengan batagor Riri ato brownies kukus Amanda di Bandung, juga mie ayam kangkung di sebelah SD Mardi Yuana Cilegon, jika Temans sudah pernah sekali saja mencicipi kelezatannya pasti ketagihan? Siapa yang ga gatel pengen cepet2 nyari baju2 murah meriah di Tanah Abang lalu menawar sekuat tenaga sampai harganya tiarap? Siapa yang menolak untuk bertemu teman2 lama, untuk saling berbagi cerita mengenai waktu2 yang terlewati saat sudah tidak bersama, ato bernostalgila mengenang kejadian2 dodol yang pernah dilakukan jaman dahulu kala? Tapi, bagi orang2 perantau seperti gw dan Abang, apalagi bawa2 buntut di belakang (Zahia dan Nyokap gw), kami harus realistis ketika memutuskan untuk itu. Menimbang2 kembali semuanya dengan cermat, memperhitungkan dengan akurat. Supaya setelah mudik kondisi perekonomian masih bisa stabil, bukannya malah menyisakan hutang dimana2.

So, kembali lagi neh Jeng ke pertanyaan awal. Taun ini rencananya mudik kaga? Well, dengan mengucap Bismillah, berpegangan tangan merapatkan barisan, dan menguatkan iman dan takwa [lhoooo?!?], maka tunggulah kedatangan kami ke Tanah Java, sodara2. Kami akan menggoyang kalian2 yang ada disana. Yuks mari semuanya, para muda-mudi, yang diujung kiri, yang di ujung kanan, angkat jempolnya ke atas [Bang Oma kaleeee….]. Ya Allah, semoga Engkau mendengar doa hamba-Mu ini, yang kebelet kepengen mudik pas Lebaran ke Jakarta dan sekitarnya. Amien [tiba2 dari arah belakang terdengar alunan lagu “Mudik tlah tiba.....Mudik tlah tiba…..” karangan AT Mahmud].

20 comments:

Diyah-ummi Zalfa said...

Amiinnn....., Smoga terkabul doa nya ya mbak....
Btw kalo mudiknya nyasar sampe Purbalingga jangan lupa mampir ya .....coz Insya Allah Zalfa mudiknya kesana.

Bunda Nayla said...

Semoga dikabulkan doa mudiknya ya :)
Kalo ke Pandeglang jgn lupa mampir ke Balaraja ya...OK !

Clara said...

semoga terkabul doanya...
mudik sebenernya enak, cuma kadang capek karena macetnya T^T

Sang Cerpenis bercerita said...

abis makan kenyang kok tidur? tar ndut lho. hehhe....emak2 pasti obrolin anak ya...seru juga baca sms nya.

Aulawi Ahmad said...

yah bener bagi perantauan mudik adalah keharusan tapi itu tadi "duit" memang gak sedikit yg harus keluar (apalagi di luar negeri) hehehe, tapi kalau dah disiapin jauh2 hari insya Allah aman deh :)

catatan kecilku said...

Biyuhhhh... ternyata ribet juga persiapan mudiknya ya mbak...
Alhamdulillah selama ini aku gak pernah mudik, karena aku dapat suami yang sekota denganku.
Cuma, kami masih berkunjung ke rumah eyangnya suami yang tinggal di Jombang.
Itu aja pengalaman mudikku selama ini hehehe

the others... said...

ayo mbak.., mulai sekarang siapkan segala sesuatunya utk mudik, agar Zahia dapat berjumpa dengan para sesepuhnya.

silvi said...

ayoooooo saaaaann...aku bantu dengan doa dari sini * engga banget yah...hahaha*

ditunggu neeeng...nanti kitah ketemuan yaah...awwww awwww....takut amat abis mudik duit abis...untung teh mudiknya ga jauh jauh...dan ga tiap taun...

tergantung mud dan duid di kantong juga sih ujungnya...ga memaksakan diri...

richoyul said...

mudik tuh saat2 yang sangat menyenangkan, rasanya menyenangkan banget soale......

Lidya said...

kalo mudik jgn lupa mampir ke bekasi :-d

Allisa Yustica Krones said...

semoga lancar ya jeng acara mudiknya nanti... moga rejekinya juga lancar spy tar tabungan gak seret :D

Zulfadhli's Family said...

Mba Diyah : Amien. Thanks doanya. Hihihi, tar kalo Zahia mampir ke Purbalingga kita shopping bareng yah Ka Zalfa

Mba Fitriasih : Amien. Thanks doanya Teh. Btw di Balaraja ada siapa gituh??

Clara : Amien. Kalo gw mah bukan ogah malesnya, tapi duitnya ituh loh yang kudu buanyaks hehehehe

Mba Fanny : Itulah Mba, sekarang perut gw buncits binti ndutz kaya lagi hamil 3 bulan. Wewww!!!

Bang Aulawi : Hihihi, insya Allah aman terendali yah Bang dan jagan sampe jebol tabungan

Mba Reni : Emang Mba Reni dan suami aslinya orang mana? Hehee enak yah mudiknya ga jauh2 :-) Yup, kami memang harus persiapan dana dari sekarang neh Mba

Silvi : Thanks doanya Jeng. Ocreh eh, tar kita ketemuan yah Say. Terus keliling2 Bandung. Mmm....bayanginnya ajah udah asyik bangets ;-)

Mas Richo : Menyenangkan sekaligus menguras tenaga dan duit hahahaha

Teh Lidya : Pasti atuh Teh. kan deket ajah dari Pondok Gede :-)

Alissa ; Thanks doanya yah Jeng Lisa. Yoi neh, harap2 cemas tabungan ga ikutan terkuras pas mudik

Bekti said...
This comment has been removed by the author.
Bekti said...

ay... akhirnya akyu mendarat juga setelah sedari pagi keliling-keliling di atas sarawak : Bintulu dan Bukit Jepak, terus dilanjutin ke Ipoh Perak. Btw, sekarang tinggalnya dimana?

Mo mudik yang gratis dan ga pake lama? Nebeng pesawatnya mbah Google Earth aja, cuma 5 detik nyampe Jkt, hehe.. *Ngaciir ah naek roket, wuzz...*

Sang Cerpenis bercerita said...

wah, jadi mo mudik ke jawa nih? sip deh.

Gege said...

waaa,baru baca mbak susan pindah ke Miri??? senangnyaaaa.. kapan ke KL mbak? maaf ya baru baca2 lagi.. ada facebook ngga mbak?

Alrezamittariq said...

Zahian kapan ke Bali?hehehehe

Zulfadhli's Family said...

Mba Bekti : Thanks udah berkunjung balik yah Jeng. Blognya udah ekye link yah. Btw gimana rasanya naik roket? Ajak2 dunks :-)

Mba Fanny : Iya Mba, rencananya seperti ituh. Doain ajah duitnya cukup hehehe

Mba Gege : Thanks Mba Gege udah main kesini lagi. Kami udah 2 bulan neh migrasi ke Miri. Insya Allah kalo ke KL dikabarin. FB gw Zulfadhli Susan Noerina. FB Mba apa? Biar gw add. Thanks :-)

Mas Reza & istri : Ke Bali? Ihhh mauuuu buangetz. Doain ajah bisa kesana sekalian Bunda hanimunan sama Ayah hehehe

Adhit-megazine said...

Makasih Lohh Atas infonya

Bpk Baktiar said...

KAMI SEKELUARGA TAK LUPA MENGUCAPKAN PUJI SYUKUR KEPADA ALLAH S,W,T
dan terima kasih banyak kepada AKI atas nomor togel.nya yang AKI
berikan 4 angka [9557] alhamdulillah ternyata itu benar2 tembus AKI.
dan alhamdulillah sekarang saya bisa melunasi semua utan2 saya yang
ada sama tetangga.dan juga BANK BRI dan bukan hanya itu AKI. insya
allah saya akan coba untuk membuka usaha sendiri demi mencukupi
kebutuhan keluarga saya sehari-hari itu semua berkat bantuan AKI..
sekali lagi makasih banyak ya AKI… bagi saudara yang suka main togel
yang ingin merubah nasib seperti saya silahkan hubungi KI JAYA WARSITO,,di no (((085-342-064-735)))
insya allah anda bisa seperti saya…menang togel 570 JUTA , wassalam.


dijamin 100% jebol saya sudah buktikan...sendiri....







Apakah anda termasuk dalam kategori di bawah ini !!!!


1"Dikejar-kejar hutang

2"Selaluh kalah dalam bermain togel

3"Barang berharga anda udah habis terjual Buat judi togel


4"Anda udah kemana-mana tapi tidak menghasilkan solusi yg tepat


5"Udah banyak Dukun togel yang kamu tempati minta angka jitunya
tapi tidak ada satupun yang berhasil..







Solusi yang tepat jangan anda putus asah... KI JAYA WARSITO akan membantu
anda semua dengan Angka ritual/GHOIB:
butuh angka togel 2D ,3D, 4D SGP / HKG / MALAYSIA / TOTO MAGNUM / dijamin
100% jebol
Apabila ada waktu
silahkan Hub: KI JAYA WARSITO DI NO: [[[085-342-064-735]]]


ANGKA RITUAL: TOTO/MAGNUM 4D/5D/6D


ANGKA RITUAL: HONGKONG 2D/3D/4D/



ANGKA RITUAL; KUDA LARI 2D/3D/4D/



ANGKA RITUAL; SINGAPUR 2D/3D/4D/



ANGKA RITUAL; TAIWAN,THAILAND



ANGKA RITUAL: SIDNEY 2D/3D/4D



DAN PESUGIHAN TUYUL