HAPPY 4th ANNIVERSARY, SUAMIKYU
BUNDA SAYANG AYAH, PASTI!
BUNDA CINTA AYAH, SANGAT!
Terus Jeng, dapet hadiah apa dunks dari Om Zul?? Idiiiihhh, yey comel deh ah mo tau aja! Hadiahnya, hanimunan bawa buntut 2 biji ke Kuching, plus selembar surat romantis, yang bikin Sang Istri takjub ternyata meski lakinya lebih banyak bergaul dengan pohon Acasia dan Eucalyptus, tapi bisa juga merangkai kata2 nan indah. Ini dia surat si Om
---------------------------------------------------------------------------------
Kuching, 12/01/2012
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Tak terasa 4 tahun hampir tiba
Bunda bersedia mendampingi Ayah
Dalam mengarungi lautan cinta kita
Mendaki gunung kasih & sayang
Zahia & Zafira menjadi cinta kita
Zahia & Zafira menjadi cinta kita
Ayah mohon maaf kalo selama ini
Belum mampu memberikan yang Bunda mau
Semoga kita akan selalu mampu
Untuk menjelajahi rimbunnya hutan cobaan
Terima kasih buat Bunda yang senantiasa setia
Menjaga keutuhan keluarga kecil kita
Happy Milad ke-4
Pernikahan kita, Sayang
Wassalam,
TTD
Ayah
Ayah
---------------------------------------------------------------------------------
Dan sebagai mantan Ketua Teater Ladang Seni di kampus IPB tercintah, 3 hari gw bersemedi tiap ada kesempatan, demi mencari inspirasi, ilham, wahyu, budhi, anthon, beserta temen2nya [Budhi & Anthon mah temen SMA, Jeng]. Maksud hati membuat puisi balasan, eh ampe sekarang otak gw masih ajah ga mau diajak kompromi. Hiks, bener2 degradasi kemampuan! Apa gara2 kebanyakan bergaul sama ulekan, terasi, dan pengki?? Tapi serius loh Temans, jaman dahulu kala, yang judulnya bikin naskah dan puisi buat pementasan kayanya gampang banget ketemu wangsit. Lah setelah merid, gw baru membuat 2 puisi. Ohmigod!!
# Puisi Pertama: Dibuat di Bintulu, 19 January 2010. Hadiah milad pernikahan yang ke-2 untuk Om Zul
Sudah berapa purnama kita bersama, Sayang?
Melalui detik yang bergulir di tangkai-tangkai hari
Melewati hari yang menelisik pucuk-pucuk waktu
Berlarian aku memunguti percikan-percikan cintamu yang berserakan dimana-mana seperti randu yang meranggas
Engkau melenakanku dengan kelembutan sikapmu
Kedewasaan pikiranmu menghisap habis remah-remah ke-egoisanku
Memanjakanku hingga aku kewalahan menggapai malam
Menaburiku dengan gula-gula dari ladang kesetiaan
Betapa beruntungnya aku sampai tak sadar embun melirikku cemburu
Sayang, tahukah engkau?
Tidak sedikitpun terselip sesal saat dua tahun lalu engkau tanpa malu-malu mencuri aku dari Mamaku
Karena jauh-juh hari kau telah berhasil mencuri hati keluagaku, memborongnya satu per satu
Dan sayang, tahukah engkau?
Betapa kebahagiaan menggenang saat aku mengandung Buah Cinta kita
Menenggelamkanku dalam kolam madu karena sebentar lagi akan ada seseorang yang memanggil kita Ayah dan Bunda
Sang Bidadari elok yang hadir tujuh bulan kemudian, bernama Zahia Shahmin Najla
Sayang, masih beribu purnama menanti untuk kita kunjungi
Berjuta mimpi menunggu untuk disambangi
Maka dekap aku erat, genggam jemariku lekat
Kita kayuh perahu bersama agar tak oleng ditelan ombak
Jangan hiraukan mendung yang sesekali menggelayut manja
Atau kerikil tajam yang terinjak tak sengaja pada alas sepatu
Karena aku yakin bahwa awan bahagia akan tetap menaungi kita
Sayang, larutkan jiwa dan ragaku dengan secangkir cinta yang kau punya
Setiap hari, tanpa henti, hingga purnama silih berganti
# Puisi Kedua: Dibuat di Miri, 3 Maret 2011. Dipengaruhi hormon Bu Bunting (pas lagi hamdun Zafira 4 bulan)
Jika ada pria berdandan habis2an seperti rock star, lalu menyanyikan sebuah lagu cinta diiringi petikan gitarnya di tengah2 keramaian, itu pasti bukan dia!
Jika ada pria yang membeli satu buket mawar dua warna, putih dan merah muda, lalu memberikan kepada si wanita dengan sikap berlutut seperti hamba sahaya menyembah Rajanya, pasti itu bukan dia!
Jika ada pria menyiapkan suatu makan malam nan romantis dengan lilin menghiasi seluruh ruangan, plus seorang penggesek biola menyenandungkan instrumen syahdu nan menggetarkan sukma, itu juga pasti bukan dia!
Jika ada pria yang dengan tiba2 naik ke atas meja pada saat kantin dipenuhi makhluk2 kelaparan karena belum makan siang, lalu membacakan deklamasi dengan suara lantang membahana untuk menumpahkan perasaan cintanya, pasti sekali itu bukan dia!
Jika ada pria yang bisa dengan ekspresif mendemonstrasikan rasa sayangnya di depan khalayak ramai, dapat dipastikan itu bukan dia!
Jika ada pria menggubah bruntai kata2 indah ke dalam puisi, menuliskannya pada kertas merah jambu beraroma daun melati, mengirimkannya kepada si wanita di dalam amplop yang juga merah jambu bergambar dua merpati, itu bukan dia, pasti!
Tapi …. Jika ada pria yang dengan gagah berani datang sendirian ke rumah calon mertua, untuk melamar anak gadis semata wayang mereka, dan memastikan bahwa dia akan selalu berusaha membuat si gadis merasa bahagia seumur hidupnya, itu pasti dia!
Jika ada pria rela dibangunkan setiap jam, ketika sedang tidur dengan nyenyaknya, hanya untuk menemani ke kamar mandi, karena Sang Wanita merasa kantung urinenya ditendang terus menerus oleh buah cinta mereka, pasti itu dia!
Jika ada pria yang ikhlas dan senang hati memasakkan nasi kuning, rendang daging, udang asam manis, ayam kecap, kue blackforest, demi membujuk istrinya agar mau makan, pasti itu juga dia!
Jika ada pria ‘ringan tangan’, rela membantu istri menjaga baby mereka, memandikan, mengganti baju dan popok, mencuci pakaian yang berember2 menggunung, serta mengerjakan berbagai pekerjaan rumah lain, di kala istrinya belum mampu berbuat banyak akibat bekas operasi di perut belum sembuh sempurna, meski konsekuensinya masuk kantor dengan mata memerah saga, dapat dipastikan itu dia!
Jika ada pria lembut, penyabar, penyayang, pencinta sejati, berjiwa seperti malaikat, itu dia, pasti!
Tak lagi aku dambakan pria romantis, pangeran bergitar yang datang menyanyikan lagu2 bernada cinta, laksamana penggubah kata menjadi pusi, juara deklamasi, ato pemberi kejutan2 manis seperti cerita2 dalam dongeng
Aku sudah merasa sebagai wanita yang paling beruntung di seluruh dunia, karena dengan segala kekuranganku, memiliki dia, dengan segala kelebihannya. Kami menggenapi satu sama lain.
Tuhan, tak ada kata terucap, selain syukur, karena padakulah tulang rusuknya yang hilang ditemukan.












