Monday, 19 September 2011
Ketika Tak Bisa Memilih
Wednesday, 10 August 2011
Pengalaman Hidup
Wednesday, 23 February 2011
Nostalgila di Pagi Hari
Monday, 5 July 2010
Betapa Gw Merindukannya
Yang bergelayut manja padaku sepanjang hari
Padahal, kupikir kau telah melupakanku
Tapi tidak, ternyata!
Sebagai penawar, kucoba menyingkap secuil kenangan kita
Agar aku ataupun kamu, bisa mengecap kembali rasa yang dulu pernah ada
Agar aku ataupun kamu, bisa mengisi ruang rindu yang tersisa
Meski lewat potongan2 gambar yang bercerita
Note :
I really miss that moment!!
Gw kangen baca puisi ga ujug2 di kantin Fateta ato Faperta, tanpa ada angin atopun hujan, pada saat jam makan siang, sehingga orang2 menyangka gw kesurupan.
Gw kangen kabur dari kuliah karena kebelet pengen jadi manusia patung di koridor Faperta, ampe encok kumat disebabkan bertahan pada posisi yang sama dalam waktu lama (baca : at least 45 menit).
Gw kangen menyiksa anak2 kalo lagi latihan, dimana mereka ga boleh melenceng sepatah kata pun dari naskah yang gw buat, sedangkan gw sendiri dengan liciknya membuat dialog yang pendek untuk part gw.
Gw kangen ngejarah barang2 yang diperlukan untuk pementasan, ngedatengin satu per satu kostan, mulai dari kostan orang yang dikenal baik, ato orang yang hanya ‘sekedar’ kenal, ato gudang barang2 bekas kepunyaan kampus, demi mendapatkan barang yang dibutuhkan.
Gw kangen latihan ampe pagi2 buta, lalu menyempatkan diri sebentar nongkrong di warung mie rebus deket pertigaan demi mengisi perut yang keroncongan, sebagai persiapan untuk memanjat pagar kostan setinggi 2 meter, karena pintu gerbang udah dikunci sama si Tante.
Gw kangen sama makhluk2 sarap yang mau menuruti nafsu buas gw, yang mau kerja rodi dengan gw, yang mau mewujudkan ide2 sinting dalam otak gw, yang mau mewujudkan cita2 berkesenian gw.

Nongkrong di Saras (Sari rasa), Padjajaran. Atas (kiri - kanan) : Bakur, Sang Penata Lampu; Daru, as a driver langganan; Yudi, makhluk jenius dalam menata musik. Bawah (kiri - kanan) : Dita, pemain berbakat; Jeng Soes yang manis; Zikra, perempuan bersuara emas yang hampir kami daftarkan Indonesia Idol tapi memohon agar tidak dilakukan secara Bokapnya galak; Adit, pembantu umum sekaligus budak belian [huahaha, maapkan akyu Dit telah membiaskan jasa2 besar lo. Ni gw tambahin komen gw tentang lo], dan juga orang yang sangat berjasa dalam menghadapi amukan Pak Dekan Faperta saat tau lantai Auditorium Thoyib tercintanya dibakar sama gw; Emma, pemiliki suara kembaran dengan Ruth Sahanaya.
.jpg)
Pementasan "Perempuan Atas Nama Kenangan" di Auditorium Faperta, 2005. Ini adalah pagelaran yang gw biaya sendiri segala sesuatunya (sewa gedung, cetak poster dan tiket, dekorasi, dll), sebagai acara perpisahan [udah wisuda gituh loh Jeng Soesnya]. Alhamdulillah 300 tiket sold out.
Gw yang berperan sebagai ibu2 beranak 1 [yang sebelah gw itu ceritanya anak gw], yang punya trauma buruk alias dilecehkan secara seksual pada saat remaja.
Indah, anggota Teater Jaring (Faperikan), aktris yang sangat berbakat. Berperan sebagai anak kecil yang trauma berat sebab diperkosa oleh Ayahnya sendiri. Oya, liat kan ayunan properti yang ada di samping? Itu adalah hasil jarahan di kostan gw sendiri. Si tante galak pemilik kostan, pas tau ayunan cucunya ilang, langsung teriak "maliiiinnnnggg.....maliiinnnggg", dan baru reda setelah dikasih tau kalo ayunan itu hanya dipinjem sebentar oleh salah satu anak kostannya (baca: gw).
Sahat, anggota Masyarakat Roempoet (Fahutan), berperan sebagai PSK yang pintar. Ni makhluk ngamuk2 gara2 dialognya paling panjang diantara pemain lainnya [sorry yah Hat, gw kan pengen juga ngerjain lo. Anggap ajah sebagai hadiah wisuda dari gw]. Btw ada cerita lucu disini. Salah satu properti untuk Sahat adalah kondom. Waktu gw suruh semua orang untuk beli tu Durex di Alfamart, semuanya pada nolak karena takut diduga akan berzinah. Akhirnya gw dan Abi, penata musik gw, nekad beli benda itu. Eh giliran abis pementasan, kotak Durex yang berisi 3 biji kondom, entah raib kemana tidak bisa ditemukan.
Dita, anggota Ladang Seni, sebagai wanita terpasung. Ranjang yang digunakan Dita gw pinjem paksa dari kostan temen gw, ampe ngamuk ibu kostnya [hahaha maapkan akyu Bu].
Ini adegan terakhir. Untuk properti keranda, tadinya mo minjem dari masjid deket kampus, tapi ga dikasih karena pengurus masjid bilang pamali. Akhirnya dibikinlah keranda2an dari bambu, yang ditutupi kain. Sehabis pemnetasan, beberapa penonton yang duduk di jajaran depan bilang bahwa tadi berapa kali kerandanya gerak sendiri. Hadoooohhhh!! Langsung parno dah gw secara gw penakut pisan!
Selesai sudah pementasannya. Dilanjutkan dengan sesion narsis. Btw liat dah muka gw cemong2 gituh karena dikasih cat sama orang2 gebleg.
Panen Seni 2 Taun 2004. Kali ini gw mengangkat sebuah buku karya Nawal El Sadawi "Perempuan di Titik Nol", dituangkan dalam bentuk teaterikal. Gw ga main, kali ini pure sebagai sutradara.
Fakta
# Lulus SMA, gw mengajukan proposal ke Nyokap, selaku penyumbang dana kuliah terbesar, untuk kuliah di IKJ. Dengan berapi2 Nyokap menolak proposal gw. Beliau bilang bahwa yang namanya teater di Indonesia belum semaju di luar negeri, Eropa misalnya, sehingga ga menjamin gw bisa mendapatkan gaji bulanan yang tetap, bonus akhir tahun, THR kalo Lebaran, asuransi kesehatan, plus keuntungan2 lainnya kalo kita kerja di perusahaan. Memang seh ada beberapa kelompok2 teater yang sudah professional dan dapat dijadikan tempat mencari nafkah. Tapi tetep Nyokap kekeuh surekeuh ingin agar gw kuliah yang “normal”, dapat gelar sarjana anu, sehingga nantinya bisa bekerja dengan “normal” juga [maap beribu maap yah penonton, gw ga bermaksud bilang bahwa pekerja seni khususnya teater adalah ga “normal”. Gw hanya menceritakan pandangan Nyokap]. Maka jadilah gw sebagai salah satu peserta yang mempertaruhkan nasibnya pada suatu ujian bernama UMPTN. Hingga akhirnya terdampar di Institut Pertanian Bogor, Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan, program studi teater.
# Waktu KKP (Kuliah Kerja Praktek) di Kuningan, gw mendengar bahwa Teater Koma mo ngadain pementasan Opera Kecoa. Tanpa pikir panjang gw minta ijin sama Ibu Kuwu (baca : Ibu Kades) 3 hari karena gw mo nonton ke Jakarta. Bu Kades pun mau tutup mulut ga ngelaporin perbuatan nista gw itu ke dosen pembimbing, setelah gw iming2i dengan oleh2.
# Gw pernah dateng ke kampus dengan mengganjal perut memakai bantal, terus pake daster, belagak hamil lah pokonya. Di angkot, ibu2 pada kasian ama gw ampe ada yang nanya "Udah hamil gede ko masih ajah masuk kuliah, Neng? Mbok ya ambil cuti". Waktu nyampe kampus, mo naik tangga di jurusan tercinta, seorang dosen Sosek (Sosial Ekonomi), ngebantu gw untuk naik tangga. Gw dengan dodolnya berhenti setiap 3 anak tangga, mengambil nafas dalam2, ngelus2 perut, lalu melanjutkan perjalanan, dengan digandeng Beliau. Hahahaha, kalo inget jadi ngerasa berdosa udah boongin mereka semua.
# Mulai dari koridor kampus, kantin, taman, ruangan auditorium dan rektorat yang ber-AC, pertigaan Istana Bogor dengan SMA 1 dan Hotel Salak, kantor walikota Bogor, ampe tempat2 yang memiliki panggung ato cuma ngampar udah pernah gw jalani. Tapi yang paling berkesan bagi gw adalah waktu mengisi acara 'Hari Lingkungan Hidup' yang diadakan oleh Rektorat, dan dihadiri oleh orang2 penting seperti asisten Menteri [Bapak Menterinya lagi ke salon jadi berhalangan hadir], pejabat2 kota, dll. Kenapa paling berkesan? Coz kami ber'4 (gw, Vika, Piir, Agung), baca puisi di atas danau buatan IPB, turun dari gedung diatas jembatan dengan tali, persis orang lagi wall climbing, tapi tanpa pegangan. Bagi gw yang fobia ketinggian dan kaga bisa berenang, bener2 perbuatan horor dan nekad yang pernah gw lakukan [apalagi pas latihan sama anak2 pencinta alam selama seminggu, dimana kami dipaksa turun dari lantai 5 di kampus Perikanan ke lantai dasar. Nyiksa boooo!].
# Dari sekian banyak teman2 di teater yang memiliki cita2 untuk bergabung dengan teater yang profesional dan udah punya nama, hanya Vika lah, teman gw asal Solo, adik angkatan [gw angkatan 37, doski 41] yang udah gw anggap seerti adik sendiri secara gw dan dia dibilang mirip [mirip itemnya], sukses bergabung dengan Teater Koma. Sayang pementasan perdana dirinya di TIM kaga bisa gw tonton, karena gw udah terdampar di Bintulu. Hiks!
# Hamil Zahia 4 bulan, gw ngidam pengen baca puisi di depan khalayak ramai. Setelah laki gw bujug2, gw pun mengurungkan niat tersebut demi menjaga kehormatan suami dengan tidak melakukan perbuatan2 anarkis.
Friday, 25 June 2010
Situ Bertanya, Sini Menjawab
Baiklah, kembali ke laptop. Gw akan mencoba fokus pada tujuan penulisan kali ini. Ada beberapa Temans yang bertanya di blog keluargazulfadhli, pada saat komen, mengenai banyak hal. Apa ini, apa itu. Mengapa bisa begitu, mengapa bisa begini. Ok lah, daripada Temans penasaran, kali ini di segmen “Situ Bertanya, Sini Menjawab, DJ Susan akan memberikan jawaban yang tepat, jelas, dan tidak berlete2 (baca: bertele2), pada pertanyaan2 yang dilontarkan.
Pertanyaan No.1
Penanya → nama di KTP = Muhammad Rosyid; nama beken = Jazz Muhammad [kenapa bukan Java Jazz Festival, ato Jazz Go To Campuss, Syid??]
Pertanyaan → “Gimana ceritanya bisa ampe nyasar ke M’sia?” Sepertinya Bung Ocid [kalo ini nama kesayangan dari Zahia buat Beliau] bertanya asal muasal laki gw ampe bisa kerja disini. Bukan begituh Om inti pertanyaanmyu? Kalo gw salah nangkep plizz dikoreksi yah.
Jawaban :
Ceritanya panjang. Tapi gw akan mencoba menjelaskan sejelas2nya, dalam tempo yang sesingkat2nya [proklamasi kalee]. Dulu, sekitar bulan April 2008, pas gw dan Abang masih kerja di Kaltim, gw ngeliat di jobstreet.com ada lowongan kerja di suatu perusahaan forestry di M’sia, untuk posisi Forester. Kualifikasi yang diminta adalah sarjana kehutanan / pertanian yang telah bekerja selama 10 taun. Bermodalkan nekad dan motto hidup ‘maju terus pantang mundur kaya undur2’, gw pun memasukkan CV Abang ke alamat email yang tercantum. Yah, kami seh nothing to lose ajah, meskipun sadar banget kemungkinannya tipis, sebab pengalaman Abang bekerja baru setengah taun dari yang diminta. 1 bulan kemudian, ada balasan dari Mr. F, yang belakangan kami ketahui bahwa Beliau adalah GM. Beliau bilang perusahaan sedang mencari orang untuk posisi Quality Control, dan Beliau tertarik ketika membaca pada CV Abang ada pengalaman di bidang QC. Maka dari itu Beliau menawarkan posisi tersebut kepada Abang. Email2 selanjutnya penuh dengan pertanyaan dan jawaban yang dilemparkan oleh kedua belah pihak, sekaligus Beliau memberikan penawaran mengenai gaji, benefit, dan detail pekerjaan. Akhirnya, terjadilah komunikasi yang intensif antara Abang via gw dan Mr. GM [coz gw di HO dimana jaringan internetnya lancar jaya, dan Abang di Estate / camp yang mana internetnya seringkali dalam keadaan mati segan hidup tak mau]. Alhamdulillah, pada bulan Agustus terjadi kesepakatan antara kedua belah pihak, ditandai dengan dikirimnya kontrak kerja kepada Abang. Kami pun berangkat ke Miri pada tanggal 14 Agustus 2008, dari Singkawang. Agak2 amaze juga sebenernya karena sama sekali ga ada proses interview dll. Bener2 rezeki Zahia deh [saat itu gw lagi bunting].
Secara singkat, berikut adalah tips mencari kerja di luar negeri :
1. Siapkan CV yang bagus dan menarik untuk dipelajari [mohon masukkannya juga dari Temans yang berpengalaman dalam membuat CV secara baik dan benar dan sesuai UUD’45]. CV biasanya terdiri dari :
- Data pribadi. Cantumkan yang penting2 ajah seperti nama lengkap, tempat tanggal lahir, background pendidikan plus IPK, status (udah merid ato masih jomblo, punya anak berapa), kemampuan yang dimiliki (misalnya menguasai 11 bahasa asing, menguasai seluruh program komputer). Yang aneh2 kaga usah dicantumin, misalnya tinggi & berat badan [kecuali ngelamar jadi model ato kuli panggul], golongan darah [yakinlah perusahaan mencari pegawai, bukan donor darah], ukuran sarung [lo pikir mo Lebaran apa?]. Untuk poto juga kaga usah terlalu narsis dengan masang poto ukuran postcard.
- Pengalaman organisasi, training2, seminar2, dan kursus2 yang pernah diikuti, cukup semenjak jaman kuliah, ga usah mulai dari TK. Masukkan pengalaman yang memiliki benang merah dengan posisi yang diincar. Jangan ngelamar jadi accounting terus masukkin pengalaman waktu ikutan kursus bikin kue di Bogasari. Pling doss (baca: pliss dong)!!
- Pengalaman kerja. Start dari kapan ampe kapan, posisinya sebagai apa, dimana, detail pekerjaan secara singkat, nama dan jabatan atasan, jumlah anak buah yang bertanggung jawab kepada kita [jika ada]. Mulailah dari pekerjaan yang sekarang masih digeluti, ampe yang paling awal.
- Referensi. Bisa mencantumkan nama bos kita di masa lampau, ato orang2 lainnya yang sekiranya dapat memberikan referensi bagus mengenai kualitas kerja kita. Cantumkan nama lengkap Sang Pemberi Referensi, saat ini Beliau bekerja dimana, jabatannya apa, nomor telepon, dan alamat email.
2. Mencari lowongan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan sebelumnya. Sesuaikan dengan kapasitas diri. Jangan fresh graduate berojolan pertanian ngelamar sebagai manager keuangan di perusahaan farmasi. Biasanya website favorit gw dan Abang dalam hunting lowongan kerja adalah: jobstreet & fridayoffcuts [yang ini info lowongan kerja untuk bidang Forestry di Australia dan NZ].
3. Setelah mendapat respon positif dari perusahaan yang kita lamar, langsung cari info mengenai perusahaan tersebut, untuk mengetahui seberapa bonafid perusahaan tersebut, apa saja bisnis unitnya, silsilah perusahaan, dll. Kadang langkah ini bisa juga diambil pada saat lagi searching, jadi bisa diputuskan apakah kita jadi melamar ke perusahaan itu ato ga. Info ini juga berguna semisalnya ada interview trus si interviewer berniat mengorek sejauh apa lo mengenali perusahaan.
4. Jika sudah berkontak2an dengan perusahaan, sebaiknya tanyakan segala sesuatunya dengan detail, sampe ke hal yang kita anggap remeh-temeh. Gapapa ko dibilang cerewet, soalnya pening bo jikalau terjadi sesuatu hal yang ga diinginkan ato merugikan gara2 kedodolan kita lupa bertanya sesat di pasar. Contoh pertanyaan penting :
- Status yang didapat. Jika sudah berkeluarga pastikan mendapat Family Status, sehingga anak dan istri tercover oleh perusahaan mulai dari tiket cuti, biaya kesehatan, dll. Karena banyak teman2 sekantor Abang yang dari Phillipine, meskipun udah berkeluarga, dapetnya Single Status. Hal ini terjadi dikarenakan mereka kurang teliti [ato kaga paham?] pada saat signed kontrak. Kalo udah gituh repot jadinya. Istri dan anak jika berkunjung kudu biaya sendiri. Oya, awalnya kami juga ga ngeh dengan Single Status dan Family Status, tapi Nyokap ngasih tau karena Beliau kebetulan ngurusin kaya beginian.
- Siapa yang menanggung tax dan levy, berapa besarannya. FYI, Abang kena tax untuk 6 bulan pertama 28 % per bulan [ditanggung oleh pekerja boooooo, nangis darah gw! Bener2 peraturan kerajaan yang kejam!], abis itu setelah 6 bulan yang menyesakkan dada dan bikin menteri keuangan kena bengek akut, tax-nya menjadi 300 RM per bulan. Levy ditanggung perusahaan.
- Kontrak kerja per berapa tahun.
- Jaminan kesehatan kaya gimana, berapa limitnya, sistem asuransi ato reimburse.
- Perumahan kaya gimana. Jangan ampe harus ngontrak rumah sendiri tapi ga dikasih Housing Allowance dari perusahaan.
- Visa, baik visa pekerja, maupun visa anak istri. Kalo di tempat Abang, visa pekerja ditanggung company, kalo visa gw dan Zahia nanggung sendiri. Ini berlaku untuk seluruh ekspat lainnya yang ada di perusahaan ini [kaga tau dah kalo di perusahaan lain].
5. Jika sudah deal, pastikan dokumen2 penting dan segala sesuatu menyangkut pemberangkatan siap semua. Passport, kontrak kerja (karena di imigrasi akan diminta bukti bahwa lo memang berangkat ke M’sia udah ada perusahaan yang siap menampung), tiket (apakah beli sendiri dulu baru tar diganti perusahaan, ato perusahaan yang langsung membelikannya), duit Ringgit. Jangan pernah nuker duit di airport karena nilau tukarnya jauuuuuhhhhh lebih mahal dibandingkan jika kita menukarnya di Indonesia. Untuk working permitt dan bank account biasanya diurus setelah pekerja datang ke M’sia. Ini berdasarkan pengalaman Abang dan temen2nya loh.
Kumaha Syid, udah jelas belom jawaban dari gw? Kalo belom yuks mari bagian mana yang masih kaga mudeng ditanyain ajah. Oya, nanti kalo ada tambahan dari Abang gw akan masukkin kesini. Sekarang mah laki ekye tercinta lagi dinas ke Lawas, pulang hari Minggu.
Pertanyaan No.2
Penanya → Teh Vera yang baru pulang melancong dari KL tapi sayangnya kaga mampir ke Miri ketemu Bunda Zahia yang manis dan Zahia yang cuantiks, dan Mba Aishi Lely yang memiliki ‘black magic’, ternyata punya pertanyaan yang sama.
Pertanyaan → “Misua kerja dimana? Di Shell yah?” [yang terakhir tambahan dari Teh Vera]
Jawaban :
Sayang beribu sayang laki gw sarjana kehutanan, bukan perminyakan. Kalo Shell meluaskan sayap bisnisnya dengan buka kebun mungkin Abang akan mencoba ngelamar. Tapi Shell sekarang masih konsen di minyak, so apa boleh buat niat mulia Ayah Zahia belum bisa dilaksanakan. Abang saat ini bekerja di suatu perusahaan forestry, kalo di Indonesia terkenal dengan HTI (Hutan Tanaman Industri). Intinya menanam pohon2 yang 5-6 taun kemudian dapat diambil kayunya untuk dijadikan furniture, papan, chips, dll.
Pertanyaan No.3
Penanya → Mba Aishi Lely lagi
Pertanyaan → “Dirimyu kerja dimana Bun, ko masuk mblesuk2 ke hutan?”
Jawaban :
Dulu, gw bekerja pada suatu perusahaan forestry (Hutan Tanaman Industri) di Kalimantan Timur, sebagai Planning Asisten. Tugas gw, mengumpulkan laporan dari 3 Estate / camp, lalu menganalisisnya dan membuat semua laporan menjadi satu kesatuan, sebelum akhirnya diberikan kepada petinggi2 perusahaan yang standby di Balikpapan, Riau, ampe Kuala Lumpur. Jika ada yang aneh dari laporan, maka gw turun langsung ke lapangan untuk mengecek apakah benar kondisi tanaman sesuai dengan yang dilaporkan. Kalopun laporan ok2 ajah, biasanya bos gw yang orang New Zaeland hobi banget ngajakin gw ke block untuk melakukan pengecekan secara random. Blocknya bukan di tengah2 mall, tapi terdapat di dalam hutan. Hamil 3 bulan, gw masih juga keluar masuk hutan, ampe orang2 kantor ngewanti2 : “Awas San tar lo jatoh kesandung kayu”, ato “Ya ampyun San, minta izin gih kaga usah masuk ke block dulu, takut keguguran tu baby karena lo bawa jalan berkilo2”, ato “Ati2 San tar kesambet setan”. Yeileh, ada2 ajah, setan mah kaga di dalem hutan doang gentayangannya. Tapi ada juga hikmahnya gw masuk2 ke rimba belantara, soalnya ternyata dapet jodohnya yah disono [untung gw kaga dapet jodoh orang hutan! Ngeri pisan bulunya gondrong!].
Pertanyaan No.4
Penanya → Rosyid lagee. Gile lo Syid, nanya tuh hobi ato doyan??
Pertanyaan → “Apakah di M’sia (baca: Sarawak) banyak banci? Soalnya ko Teteh ngomongnya sering banget pake bahasa2 banci seperti lambreta bambang, ekye, dll??”
Jawaban :
Bujug dah Syid, lo nanyanya aneh2 ajah. Gw, sejujurnya belom pernah ngadain survey untuk mengetahui berapa kelimpahan orang2 yang berada di persimpangan jalan (baca: banci) di Miri ato Bintulu, sehingga gw kaga bisa bilang banyak ato sedikit ato sedang2 ajah. Tapi Syid, sebenernya sama sekali kaga ada korelasi yang berbanding lurus antara banyak banci dengan gaya bicara seseorang. Gw dari sononya kaya begini, wanita manis yang sangat jenius dan santun meskipun saat berbicara ato menulis 80% menggunakan bahasa preman. Seinget gw, palingan waktu nulis skripsi, jawab soal2 ujian, dan menulis proposal untuk PIMNAS ajah yang menggunakan bahasa manusia normal dengan tingkat intelektualitas tinggi. Eh tapi tau ga seh lo, penah sekali pas ujian Nematoda yang soalnya secara mendadak bisa bikin mencret2 mahasiswa, gw jawab di lembar jawaban macam ini “Maapkan saya Pak Dosen. Saya lupa jawabannya. Tapi yang pasti, kalo Bapak buka diktat halaman sekian, Bapak pasti bisa menemukan jawaban yang betulnya”. Hahahaha, ga heran berkat surat cinta gw itu gw dapet nlai C untuk mata kuliah Nematoda yang sangat gw cintai sampe ke ubun2. Heran beribu heran, ko gw bisa hapal nomor halamannya daripada isi yang terkandung di dalamnya?? Ckkkk …. ckkkkk …. Sungguh luar biasa daya hafalan gw!
Back to the topic, sebenernya setiap orang memiliki gaya bicara dan gaya penulisan yang berbeda2. Ada yang suka menulis dengan formal menggunakan Bahasa Indonesia sesuai Ejaan Yang Telah Disempurnakan, ada yang hobi berpantun, ada yang pandai menulis dengan bahasa2 puitis nan indah, ada juga yang kacrut kaya gw. Apapun itu, asalkan masih dalam koridor2 kesopanan, menurut gw seh ok2 ajah. Lagian entah kenapa dengan membaca tulisan seseorang gw jadi bisa menebak orang tersebut gimana sifatnya, walopun kalo ketemu belum tentu juga tebakan gw benar.
Satu lagi Syid, lo kalo nyebut Banci di M’sia ini artinya sensus. Tar deh gw poto baligho segede bagong yang bertuliskan “Banci Penduduk 2010”, artinya sensus penduduk 2010.
Pertanyaan No.5
Penanya → Mba Herien, Bundanya Shishil yang seneng berbisnis MLM
Pertanyaan → “Asal Jeng Soes dari Pandeglang kah?”. Singkatnya seperti itulah pertanyaan Beliau. Ini terlontar setelah membaca postingan gw yang menyebut akan roadshow pada mudik Lebaran taun ini ke Jakarta, Cilegon, Pandeglang, Bekasi, Bogor, Bandung, Singkawang, dan Potianak.
Jawaban :
Pertanyaan ‘where do u come from’ adalah pertanyaan yang sangat sulit gw jawab. Tingkat kesulitannya melebihi kuis ketok mengenai Ordo Homoptera, jaman kuliah dulu. Kakek gw orang Jawa [jangan tanya Jawanya dimana, gw ga mudeng], lahir di Jakarta. Nenek dari Kebumen kalo kaga salah, gede di Bandung. Karena Kakek tentara yang dioper kesana-kemari, alhasil Nyokap gw lahir di Makassar. Bokap gw orang Phillipine. Ortu gw, setelah merid, stay di Cilegon karena kerja disana. Gw sendiri lahir di Serang. Dengan gado2 yang sangat membingungkan tersebut, untuk mempermudah jika ada orang yang bertanya asal gw dari mana, gw akan jawab dari Bandung. Kenapa? Karena Nenek lama berdomisili di Bandung. Karena Nyokap gede di Bandung. Karena gw SMA di Bandung. Karena gw sendiri juga bingung. Maka melalui keputusan yang diambil secara sepihak, gw mendeklarasikan bahwa gw adalah orang Sunda. Walopun orang2 banyak yang protes katanya mana ada orang Sunda item [temen2 yang bilang gw item udah pernah merasakan jurus sakti gw, sehingga akhirnya mereka menambahkan embel2 manis di belakang kata item supaya aman dari serangan gw yang membabi-rusa, bukan babi-buta. Kasian bo udah babi, buta pula! GA PENTING BANGET SEH SAN BUAT DIBAHAS!!!!!]. Lucunya lagi, waktu sebelum merid Abang nanya kaya gini:
Abang : “Neng, tar mo pake adat apa?” [Neng tuh panggilan kesayangan buat gw]
Neng manis : “Adat Sunda dunks”
Abang : “Emang siapa yang orang Sunda?”
Neng manis : (nyubit si Abang ampe di tangannya muncul tattoo abstrak warna biru keunguan)
Abang : “Yah udahlah gpp ngaku2 daripada dibilang ga beradat”
Neng manis : (menambahkan tattoo ke tangan Abang yang satunya lgi)
Ampe sekarang, untuk mempermudah urusan, gw akan mengaku bahwa gw adalah orang Indonesia suku Sunda. Ada yang mo protes?!?!
Demikianlah sodara2 sebangsa setanah air, jawaban dari dalam lubuk hati gw terdalam. Semoga Temans, apalagi yang bertanya, merasa puas dengan apa yang gw sampaikan. Otreh deh, gw mo masak dulu yah. Dags dags semuanya. Have a nice day.
Wednesday, 28 April 2010
Bukan Cerpenis Biasa

Well, Temans pasti bertanya2 lomba seperti apakah yang gw ikuti. Hayo deh ngaku kalo emang penasaran?! Jadi, perlombaan kali ini diadakan oleh Mba Fanny Fredlina, Sang Cerpenis, empunya blog just-fatamorgana.blogspot.com, menyambut postingan yang ke-1000. Bayangin bo, seceng postingan! Gw, sebagai pemula dalam dunia blog, yang postingannya baru 40-an, awalnya minder banget opo iya bisa bikin tulisan yang okeh dan edun surudut. Tapi karena gw merupakan makhluk manis dengan rasa percaya diri berlebih akibat penggunaan Rexona yang over dosis, maka gw putuskan untuk maju terus pantang mundur. Toh yang namanya mencoba kan kaga bayar. So, nothing to lose ajah deh penonton. Menang syukur, ga menang ora popo [tapi teteup dunks Mba ekye dikasih buku sebagai kado ultah, hihihi maksa!].
Asal muasal perkenalan gw dengan Mba Fanny adalah saat blogwalking ke blognya Mas Reza (Alrezzamitariq). Ada satu nama yang bikin gw bernafsu [tanpa birahi] untuk berkenalan dengan komentator yang bernama Sang Cerpenis. Kenapa gw pengen berkenalan? Pertama, dari jaman dulu, SMP tepatnya, gw hobi banget bikin cerpen, puisi, naskah teater [gini2 emaknya Zahia ketua klub teater di Fakultas loh waktu kuliah], sinopsis buku ato film, dan segala sesuatu yang berbau2 tulis-menulis, kecuali nulis2in tembok sekolah dengan kalimat norak tujuh keliling: “Susan love Anu” ato “Salam buat Kaka Kelas 3 yang ganteng dan berkacamata”. Sayangnya, aktivitas menulis saat ini udah jarang banget gw lakukan karena yang namanya emak2 punya toddler pasti lebih sibuk di dapur bikin makanan anak, main sama anak, nonton Barney sama anak, nenenin anak, dll. Pokonya semua dengan anak kecuali boker dan mandi. Jujur, seringkali gw merindukan dunia itu, sehingga terkadang gw butuh untuk “menyegarkan otak’. Caranya yah berkenalan dengan orang2 yang masih, pernah, ato sedang eksis disitu. Kedua, gw penasaran ingin liat gimana isi blog Sang Cerpenis, yang sepertinya orangnya sangat friendly. Kesimpulan ini diperoleh karena saat wara-wiri berkunjung dari blog satu ke blog lain, gw ngeliat Mba Fanny aktif sekali berkunjung dan berkomen, pada banyak blog, tanpa pandang bulu ketiak ato bulu kaki, apakah pemilik blog itu cowo ato cewe, apakah Bapak2 ato Ibu2 ato remaja ato udah Nenek / Kakek, semuanya ditandangin . Maka di taun 2010, tapi sori banget gw lupa tanggal dan bulannya, gw melakukan kunjungan perdana pada blog Jeng Fanny. Semenjak itu gw pasti berkunjung setiap Beliau memiliki postingan baru, yang biasanya mah bisa kaya orang minum obat, sehari 1-3x posting.
Latar belakang hitam sebagai background menurut gw merupakan pemilihan yang tepat, karena tampilan blognya menjadi elegan. Ditambah dengan header berupa keyboard ¼ bagian bawahnya saja, mouse, bulpen, dan kertas yang di-klip, sangat sesuai dengan citra diri Beliau sebagai seorang penulis, Lalu bagaimana dengan tulisannya? Isinya sederhana saja, tapi pesennya ada dan ‘kena’ kepada orang yang baca, dan itu yang penting menurut gw. Dari postingan2 yang pernah gw baca, isinya bermacam2: ada curhatan pribadi, misalnya saat membeli lemari besi baru untuk nyimpen file2 klien, tapi terjadi misunderstanding pada saat barang datang karena tu lemari diantar tanpa notifikasi sebelumnya; ada juga tulisan tentang indahnya persahabatan, seperti kesedihan Mba Fanny plus rasa bangga pada seorang sohibnya yang mo berangkat ke LN; banyak pula goresan2 cinta mengenai keluarga, dan gw sangat tersentuh dengan tulisan Mba Fanny mengenai Nyokapnya, yang meskipun ga sekolah tinggi tapi sukses membesarkan anak2 Beliau sehingga ‘jadi orang’ semuanya [lha emang sebelumnya apa, San??]; terselip pula2 homor2 ringan nan gayus; awards2 yang diperoleh sebagai tanda perhatian dari teman2 blogger [thanks yah Mba udah ngasih 3 awards ke gw]; renungan2 dengan pesan moral yang dalam, terutama mengenai Tuhan dan sesama manusia; serta cerpen2 made in Mba Fanny yang beberapa dari cerpen tersebut sudah diterbitkan di majalah. Meskipun mohon maap gw ga pernah beli majalahnya soale di Miri ga pernah nemu tabloid Gaul, salah satunya yang pernah mempublikasikan cerpen Mbakyu.
Kreatip, pake ‘P’ bukan pake ‘F’. Itulah kesan gw saat mendengar bahwa Mba Fanny mengadakan beberapa lomba untuk menyambut postingan ke-1000-nya. Meskipun ada ajah yang menganggap Beliau melakukan hal tersebut untuk menaikkan PR dan merampingkan Mbakyu Alexa [kalo boleh jujur gw neh gapteks pisan, jadi kaga paham dengan PR dan Alexa, cuma sering liat ajah di beberapa blog], tapi gw tidak melihatnya seperti itu. Yang namanya meluapkan kegembiraan kan tindakannya bisa beraneka ragam. Bisa ajah kalo postingan gw udah 275 biji gw akan membuat lomba mewarnai, dan menghibahkan poto2 gw dan Zahia ukuran poster bagi para pemenangnya [dijamin pasti orang yang menang pasti hepi berat dapet alat buat nakut2in tikus di rumah]. So Jeng Fanny, biarlah kambing mengembik, ayam ber-kukuruyuk, burung bercicit, dan anjing menyalak, karena itu hak mereka. Tetap lanjutkan perjuanganmu, ekye bangga dengan apa yang dirimyu lakukan.
Apa jadinya jika seorang penggemar strawberi ketemu dengan maniak duren, yang ga begitu suka dengan strawberi, karena rasa asamnya yang menggigit? Yah jadinya seperti kami. Gw, walopun belum pernah berjabat tangan, bertatap muka, dan ngobrol langsung dengan Beliau sambil minum milk shake strawberi dan makan roti bakar, langsung ngerasa nyambung ajah kalo lagi berbalas pantun via komen di blog. Yah moga2 ajah kalo pas gw mudix ke Jakarta bisa KopDar sambil ditraktir oleh Sang Cerpenis bin Notaris bin Bloggeris, di Bakmi Gajah Mada, ato Hoka2 Bento [tempat lain juga gpp ko Mba, ini kan hanya sekedar saran, soalnya dah lama juga gw kaga makan tu bakmi dan HokBen hehehe].
Akhirul kata, beli batik di Mangga Dua, Susan cantik Bang Zul yang punya. Hihihi, mangap yah, salah sambung pantunnya! Begini yang betul: beli batik di Mangga Dua, sekian dulu review blognya. Ocre lah kalo begitu. Gw ngantuks bo, soale dari bangun jam 5 pagi kaga tidur lagi. Maklum ART dah resign, jadi yah gotong-royong sama Nyokap deh ngerjain segala pekerjaan rumah tangga. Gudnite Temans, have a nice dream yah. Oya buat Mba Fanny, ini ada kado dari gw, untuk postingan ke-1000 nya.
Sang Penulis bercerita.....
Dengan kalimat2 penuh makna.....
Tentang segalanya, kepada dunia.....
Jika kau terlena dibuatnya, jangan salahkan dia.....!
Karena kata serta bait adalah kekuatannya.....
Maka sudah jelas bahwa merekalah pelakunya.....
Sssstttt.....sini aku kasih tau.....
Jaga baik2 dirimu.....!!!!
Karena tulisannya membuat orang ketagihan, seperti candu.....
Note : sebenernya tulisan ini mo gw posting semalem. Tapi karena signal buruk jadi gagal maning gagal maning. Makanya baru bisa diposting pagi ini.
Tuesday, 29 December 2009
See You Later Boss : Mr. Adrian J Carstens