→ Sebenernya ini masih ada sangkut pautnya sama air, tapi gw bedakan pembahasannya. Yup, karena air susah di camp, maka pada saat kritis air, gw, Abang, Nyokap, dan ART mandi 1x dalam sehari. Pengecualian buat Zahia, jadwal mandinya tetep normal supaya ga kena penyakit kulit [kalo yang tua mah udah kebal]. Bahkan gw rela berkorban demi keluarga dengan mandi dua hari sekali. Ih jorse bangets! Jijay bajay deh kamyu! Tenang, percayalah bahwa meskipun ga mandi kami tetap harum mewangi sepanjang hari karena tidak lupa menggosok gigi dan memakai Rexona serta parfum setiap 1 jam sekali. Penderitaan tidak hanya sampai disitu, saat air berlimpah, karena tangki penampungnya terbuat dari besi, maka kalo mandi pagi dinginnya setengah mati, kalo mandi siang2 pada saat matahari lagi menyengat galak airnya panas ga ketulungan. So, dengan cerdas gw membeli banyak ember berukuran guede untuk menampung air. At least kalo pipis siang pas cebok tidak terlalu menderita.
→ Mandi pagi, tengah hari bolong, sore, malem, subuh, rasa airnya sami mawon. Brrrrr…..dingin dan menyejukkan.
Udara segar (1 point untuk camp)
→ Kalo ini udah jelas siapa pemenangnya. Camp yang kami tinggali memang bukan bener2 berada di dalam hutan. Jangan bayangkan hutan alam kaya di Indone

sia yang masih ada harimaunya. Jarak camp ke kota Bandar Bintulu pun dekat, hanya sekitar setengah jam pake mobil. Tapi tetep ajah yang namanya camp bukan di tengah kota ato pinggir jalan. Udara disono bener2 fresh karena masih banyak pohon2, apalagi jauh dari keramaian. Wong yang melintas di depan rumah paling2 mobil Abang, mobil tetangga [
kami hanya punya tetangga 3 biji], truk sampah, dan beberapa motor. Selain itu, rumah dinas kami memiliki banyak jendela. So, udaranya seger banget, terutama kalo pagi hari. Siang mah tetep panas kaya di Jakarta.
→ Fiuhhh! Tarik napas dulu ah sebelumnya. Bukan apa2, sejak awal kami datang ajah udah disambut dengan kabut asap. Inilah hasil dari kerjaan orang mo buka ladang tapi dengan cara ngebakar lahan. Jadi udah beberapa minggu ini pas pagi2 buka jendela dan pintu, bukannya menghirup udara segar, tapi malah bikin paru2 terkontaminasi dengan asap! Satu hal lagi yang gw ga suka dari umah yang sekarang adalah ventilasinya cuma di depan (ruang tamu + kamar Uti), di samping (kamar Mak Cik Eli), dan belakang (dapur). Sedangkan kamar gw, Abang & Zahia sebagai kamar tidur utama justru tanpa jendela karena merupakan kamar jadi2an alias hasil renovasi [dulu adalah dapur]. Kalo berada di kamar rasanya seperti dikurung di dalam box. Apalagi kalo siang2 tanpa menghidupkan AC, wuihhh double sengsara: dimasukkin ke dalam box, boxnya dipanggang di kompor gas dengan suhu 40 derajat, jam 12 teng di luar rumah. Alamakjang!!!
Fasiitas (1 point untuk camp & City)

→ Alhamdulillah di camp kami mendapatkan rumah baru, belum pernah ditempati siapapun karena baru bener2 selesai dibangun pas kami dateng. Fasilitasnya cukup lengkap. Rumah kayu (papan) dengan 2 kamar, tempat tidur 1 queen size yang 1 lagi single-bed, 1 set kursi tamu dan kursi makan dari kayu, kulkas ukuran sedang, kompor & tabung gas, AC, ceiling fan, water heater, lemari baju, serta buffet.
→ Di Miri kami merental rumah dengan 3 kamar (jadi Uti & Mak Cik Eli punya kamar sendiri2), fully-furnished, minus water heater. Pemilik rumah meninggalkan perabotan yang cukup lengkap, sehingga kami tidak perlu repot2 membeli ini itu. Rumahnya bertembok semen dengan lantai keramik. Tapi bisa dibilang secara keseluruhan rumah ini jorok, tidak terawat, apalagi di bagian belakang [tapi sekarang udah diperbaiki sama Abang yang pandai bertukang]. Kecoanya jangan ditanya, seliweran dengan semena2 seakan2 merekalah tuan rumah disini.
Mobil (1 point untuk camp)
→ Bagian ini terasanya sama laki gw. Kalo di camp, Abang pulang dinas luar mobilnya super kotor, langsung bawa ke workshop. Disitu udah ada orang yang emang digaji perusahaan buat nyuci mobil yang khusus diimport dari Indonesia dengan gaji RM 19 per hari [informasi yang sangat penting, bukan?]. Jadi Beliau tinggal duduk manis, ato kalo lagi rajinnya keluar ikut bantuin (baca: bantu tunjuk sana tunjuk sini), terus selesai deh. Mobil pun kembali ke pelukan Abang dalam kondisi kinclong.
→ Saatnya menyingsingkan lengan baju buat mencuci mobil setiap wiken sehabis pulang dinas. Hihihi, ekye bantu pake doa ajah yah Hon. Kuatkan hatimyu dan teruskan mencuci.
Lingkungan sekitar (1 point untu City)
→ Dengan tetangga yang 3 biji, dan tidak ada yang membawa keluarga, dapat dipastikan Zahia tidak memilki teman sebaya. Interaksi dengan orang selain orang tua dan neneknya sangat jarang sekali, kecuali ada tamu yang datang ke rumah ato sebaliknya kami yang main2 ke rumah mereka. Paling Zahia ngeliat orang banyak pas shopping seminggu sekali ke mall. Ga heran kalo Zahia takut sama orang. Apalagi sama Mr. Indihe yang mohon maap lahir batin [duh ga enak hati mo ngucapinnya, maapkan akyu yah Mister], berwarna hitam legam. Wah Zahia sawan tuh setiap ngeliat Beliau. Anehnya kalo pas ketemu bos Abang yang orang bule (dari AfSel), tanpa diminta Zahia langusng mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan cium tangan. Hihihi, kecil2 udah pinter milih.
→ Yang judulnya kompleks pasti kiri kanan ada tetangga. Rata2 penghuni disini adalah China, Dayak, Melayu. Banyak juga yang punya anak kecil sehingga bagus untuk Zahia bersosialisasi. Dan pastinya bagus juga buat gw yang akan memulai bisnis alias berdagang batik [doakan banyak pelanggan yah Temans]. Satu hal yang menyebalkan adalah karena tetangga kiri kanan punya mobil 2-3 biji, garasinya ga muat, terkadang mereka dengan semena2 memarkirkan mobilnya di depan pagar rumah kami.
Macet (1 point untuk camp)
→ Bisa dipastikan bahwa di camp ga akan pernah macet coz si Komo ga mampir kesono. Bintulu, meski hampir seluruh penduduknya memiliki mobil tapi gw ga pernah kejebak macet. Para pengguna kendaraan pun tertib. Ga ada tuh yang namanya nyerobot soni sini sok selonong boy.
→ Namanya juga kota besar. Mo kemana2 macet. Dimana2 macet. Bahkan sampe di fly-over pun macet. Gilanya lagi, kalo pas hari kerja, nemu lampu merah, musti 3x berhenti baru bisa ketemu lampu ijo. Ini part yang paling gw ga suka. Udah gitu orang2nya ga tertib pula. Potong jalan orang, nyalip tiba2. Untuk itu gw memilih tempat shopping di market deket rumah ajah daripada bela2in shopping di mall tapi nyangkut dalam kemacetan. Huuuhhhh.
Tingkat kriminalitas (1 point untuk camp)
→ Penjagaan di camp cukup ketat. Ada 2 gate, yaitu di depan dan belakang yang harus dilewati jika mo keluar-masuk. Setiap kendaraan yang datang ato pergi terdaftar dengan detail. Alhamdulillah selama kami 2 tahun tinggal disana aman2 ajah. Ditinggal mudik pas Lebaran pun ga kuatir.
→ Semakin besar suatu tempat, maka semakin merebak pula tindak kejahatannya. Ini hukum alam. Sebelum kami pindah ke Miri, temen2 Abang di HQ (Head Quarter Office) bercerita kalo tingkat kriminalitas disini tinggi. Setiap bulan ada sekitar 60 mobil & motor yang hilang di Boulevard Mall (data by Newspaper), sebuah mall ternama. Banyak kasus2 pencurian dan perampokan. Maling masuk ngejebol atap lah, pura2 jadi petugas apalah. Pokonya bikin bulu kuduk berdiri deh dengernya. Gw, saking parnonya, tidak pernah membiarkan orang2 yang baru dikenal masuk ke rumah. Kalo emang mo ngobrol yah di luar ajah. Kebetulan juga ada di garasi ada semacam kursi, dari batang pohon yang dipotong2 kemudian dijadikan kursi (bawa dari camp). Malem2 denger suara sedikit ajah gw langsung kebangun. Ya ampyun, pening deh kepala gw dipenuhi pikiran2 yang mengerikan!! [tuh kan makin parno deh gw].
KESIMPULAN
Dari 9 hal yang dipaparkan, baik camp maupun city mendapatkan point yang sama, yaitu 5 point. Sehingga kesimpulannya pertandingan berakhir seri / draw.
Dimana bumi dipinjak, disitu langit dijunjung. Artinya adalah puasa jualan kolak, pasti banyak pengunjung. Maap sodara2, ngawur!! Yang mo gw katakan adalah kemanapun nasib membawa kita, dihempaskan ke tengah rimba ato diceburkan ke kolam yang ramai, ga usah dipermasalahkan. Syukurilah semuanya, dan yakinlah bahwa itu adalah keputusan-Nya yang terbaik. Itulah yang gw lakukan sekarang, mensyukuri. Kami (khususnya gw) berusaha menerima semua plus dan minus di tempat yang baru ini dengan lapang dada. Berusaha untuk menyamankan diri sendiri, bagaimanapun caranya. Dan sudah pasti gw akan membuat rumah ini menjadi tempat yang hommy bagi keluarga. Caranya Jeng Soes? Ya udah pasti lah dengan membanjiri cinta ke seluruh bagian, meluapkan kehangatan pada setiap sudut, yang tersembunyi sekalipun. Welcome to Miri, Temans!