Sunday, 3 January 2010

Time to Swim, Princess

6 kali sudah Zahia berenang di kolam renang [ya iyalah Bun…masa di sungai!]. Yang ikut nyemplung ke kolam adalah Ayah tercinta. Bunda dan Uti (Uti baru 2x ikut) jadi pemandu sorak di pinggiran kolam. Plus nyambi jadi fotografer ato kameramen yang lagi bikin liputan. Zahia selalu ajah jadi peserta renang termungil dan ter-cute pastinya [hohoho….narsisnya kumat!].
Dengan baju renang pinky yang ada gambar buah jeruk atau bikini polkadot pinky, serta ban yang juga pinky, betapa menggemaskannya Princess Zahia. Apalagi semenjak berenang yang ke-5 Zahia udah bisa kecipak-kecipuk sendiri tanpa Ayah pegangin. Anak pintar. AyBun banggaaaaaaa banget sama Zahia. Oya, tiket masuknya 1 RM untuk anak, dan 2 RM untuk orang dewasa. Kami selalu datang hari Minggu sore jam 4 teng. Jam segitu kolam masih sepi, kalau udah jam 5-an ruamenya bukan main.

Mengenai barang bawaan, Bunda selalu menyiapkan tas pink segede bagong yang isinya: baju ganti Ayah & Zahia, handuk, perlengkapan mandi, sandal jepit, pernak-pernik Zahia (lotion, talc, diapers, minyak telon, sisir, baby cologne, vitami
n rambut), dan of course cemilan. Biasanya Bunda nyiapin roti isi keju atau gula tabur, kadang juga bawa oat & buah Zahia, serta ga ketinggalan Milo dingin Ayah.
Lanjuuut Maaaang - Time to Swim, Princess

Wednesday, 30 December 2009

Tour of Duty

Ibarat kata pepatah lama ...

Sambil Menyelam Minum Air,
Sekali Dayung Dua, Tiga Pulau Terlampaui

... Mungkin itu adalah kata2 yang tepat untuk menggambarkan apa yang ku rasakan saat ini. Allah SWT telah memberikan apa yang dari dahulu aku impikan dan inginkan yaitu bekerja sambil wisata. Dalam kesempatan bekerja di luar negeri seperti ini, maka aku selalu berupaya enjoy dengan segala bentuk pekerjaan dan tanggungjawab. Dengan designation yang aku genggam saat ini memungkinkanku untuk mengenal lebih jauh banyak daerah2 yang ada di Malaysia, especially Sarawak. Dibawah ini aku akan memaparkan serba sedikit beberapa kota atau area yang sering aku kunjungi.

1. Bintulu
Adalah sebuah kota (bandar) yang mengalami perkembangan / pertumbuhan yang sangat pesat, hal ini di dukung oleh keberadaan dan ditemukannya sumur2 minyak dan gas di lepas pantainya. Secara umum perkembangan ini mulai sekitar 15 tahun yang lalu. Sebelumnya Bintulu hanyalah sebuah district area di bawah regency Sibu. Perkembangan Bintulu saat ini juga di topang oleh banyaknya industri perkayuan dan oil palm. Mega project Hydro electric Bakun juga saat ini masih terus dikerjakan yang mana projek ini sudah mulai dikerjakan lebih kurang 10 tahun yang lalu, tetapi hingga kini masih belum juga rampung.

2. Sibu
Merupakan sebuah Bandar Raya (kota besar) yang sudah cukup tua. Menjadi pusat pemerintahan sejak zaman kolonial. Sebagai Bandar Raya, maka populasi penduduknya juga sangat banyak, berbagai company / group besar juga menancapkan tiang kantor pusat (HQ) disini. Tetapi sejauh ini Sibu sudah bukan lagi menjadi sebuah Bandar yang secara massive melakukan pertumbuhan, kemungkinannya adalah karena sudah sampai kepada titik jenuh. Sehingga area2 lain sekarang menjadi pusat tumpuan perkembangan ekonomi yang lebih tajam.

3. Miri
Minyak & gas adalah urat nadi sebuah dusun kecil yang bernama Miri. Dusun kecil ini sekitar 50 tahun yang lalu hanyalah Kampung Nelayan di muara Sungai Baram atau juga sering di sebut Kuala Baram. Ketika sumur2 minyak dan gas ditemukan di Miri, maka banyak perubahan dan perkembangan yang terjadi di Bandar tepi laut Cina Selatan ini. Geliat ekonomi dan fokus negara mulai tertuju kesini. Saat ini Miri adalah Bandar Raya terbesar kedua setelah Kuching. Lokasi Miri yang sangat strategis dan memiliki crossing border dengan Brunei di Sungai Tujuh, membuat atau memberikan dampak ekonomi yang sangat signifikan. Miri juga memiliki banyak sekali manufacturing company dengan basic kayu, palm oil, dll.

4. Kuching
Sebagai Ibu kota (Bandar Utama) di Sarawak, Kuching adalah salah satu pintu gerbang (kalau pakai pesawat) untuk menuju Sarawak. Bandar ini memiliki kelebihan utama adalah sangat dekat dengan crossing border dengan Indonesia (Tebedu - Entikong). Hanya lebih kurang 2 jam kita sudah sampai di border. Kuching adalah pusat pemerintahan Negeri Sarawak Bumi Kenyalang. Selain legal border, maka dari Kuching ke Indonesia (wilayah Kalbar) juga banya sekali tersedia "Jalan Tikus" yang illegal, sehingga tidak mengherankan bila banyak TKI illegal masuk dan sulit dikontrol, karena kalau mereka adalah orang lokal, maka face, dialek, bahasa, dll adalah sama saja sehingga sulit untuk membedakannya, kecuali setelah dilakukan pemeriksaan IC (KTP).

5. Marudi
Malang sekali nasib Distric Marudi. Sejak Zaman kolonial, daerah ini adalah salah satu pusat pemerintahan dengan wilayah jajahannya sampai ke Miri. Tetapi apa yang terjadi saat ini, Miri sudah berkembang pesat dengan menjadi Bandar Raya, Marudi masih menjadi District Area dengan kemajuan yang sangat-sangat lambat. Hal ini dapat difahami, secara geografis, posisi Marudi kurang strategis, berada di Tanjung Sungai Baram, wilayah ini terletak di pedalaman. Banjir adalah sesuatu yang lumrah disini sejak zaman dahulu kala. Sehingga dengan kondisi seperti ini dapatlah difahami mengapa akhirnya Miri yang menjadi pusat pemerintahan (regency) dan Marudi berada di bawah Miri. Segala sumber daya alamnya seperti kayu dan oil palm dikirim ke Miri melalui sungai Baram, sehingga lengkaplah sudah penderitaan Marudi hanya sebagai sapi perahan, seperti nasib banyak wilayah di Indonesia.

6. Long Lama
Saat ini kita dapat melalui darat ke areal ini karena sudah ada jasa ferry dengan membayar RM 15 per kendaraan roda 4. Long Lama berada di salah satu Tanjung Sungai Baram juga, tepatnya di bagian Hulu Marudi. Long dalam bahasa lokal artinya adalah sungai, maka Long Lama artinya adalah Sungai Lama. Long lama secara administratif adalah di bawah Daerah Majlis Marudi artinya areal ini dibawah wilayah admistratif distric Marudi. Kampung ini hanya kecil saja, tetapi menjadi salah satu pusat perdagangan untuk supply sembako ke wilayah2 pedalaman (remote area). Sekolah2 lengkap dengan asrama dan apartemen untuk guru juga tersedia disini, karena biasanya murid2nya adalah dari pedalaman dan tidak ada tempat tinggal, maka disediakan asrama sedangkan apartemen untuk guru, karena majority guru2 di Malaysia berasal dari Semenanjung (Malaysia Barat).

7. Lawas
Ini adalah district area terluar / terjauh dari Negeri Sarawak. Lawas adalah areal dengan 2 crossing border. Pertama dengan Temburong Brunei dan yang kedua dengan Merapok Sabah. Sebagaimana yang harus di fahami sebelumnya, Malaysia adalah suatu negara Federal dan ketika kesepakatan Sarawak bersedia bergabung dengan Malaysia, salah satu klausul penting adalah "semua warga negara Malaysia yang ingin masuk Sarawak harus menggunakan passport". So.. inilah yang membuat semua pintu perbatasan Sarawak baik dengan negara lain ataupun dengan negara bagian (federal) lain juga harus ada pemeriksaan immigration & custom. Jika kita dari Miri mau menuju Lawas menggunakan kendaraan darat, maka kita akan bertemu 4 pintu gerbang. Di setiap pintu gerbang terdiri dari 2 bagian, maksudnya adalah seperti check point Sungai Tujuh. Pertama kita akan cek passport di Immigration Malaysia, setelah itu cek lagi di immigration Brunei, kemudian begitu seterusnya hingga ke pintu gerbang yang keempat kita keluar dari wilayah Temburong, sampai akhirnya masuk ke Lawas. Jadi kalau WNI mau ke Lawas maka passport akan di stempel 8 kali untuk satu kali perjalanan. Lumayan kan buku passport akan cepat habis. Dari Lawas kalau kita mau ke Kota Kinabalu (Ibu kota Negeri Sabah) hanya memerlukan waktu 1,5 - 2 jam saja menggunakan kendaraan darat. Tetapi sekali lagi kita akan di stempel passportnya ketika keluar Sarawak dan masuk Sabah.

Demikianlah sekilas pandang beberapa wilayah / bandar yang sering aku jalani. Bahagia & senang rasanya dapat melihat wilayah orang lain untuk menambah referensi apalagi secara gratis.


Marudi - Sarawak
Lanjuuut Maaaang - Tour of Duty

Tuesday, 29 December 2009

Pembantu, supir, kuli, buruh kasar = ORANG INDON

Sebenernya waktu gw nulis judul ajah berasa miris banget menghadapi kenyataan cap / stigma orang2 di Malaysia terhadap orang2 Indonesia adalah pekerja menengah bawah [mohon maaf sebelumnya terhadap Bapak/Ibu/sodara2 sekalian yang berpofesi sebagaimana disebutkan di atas]. Gw bukan mengada2, tapi gw sendiri (termasuk laki gw) seringkali dianggap seperti itu. Sampe gw bertanya2 di dalam hati, apa emang muka gw yang ndeso dan merana, ato emang orang2 itu yang selalu meng-underestimate-kan orang Indonesia.

Dongkol Part 1

TKP : Klinik Kerajaan di Bintulu, saat imunisasi Zahia.
Setting : Bunda lagi duduk ngantri nunggu dipanggil Dokter. Ayah ngegendong Zahia sambil berdiri kukurilingan [bahasa Sunda, artinya jalan keliling2]. Sebelah Bunda ada Ibu2 muda yang Bunda perkirakan usianya di bawah Bunda 2 taun, pake kerudung & abaya corak bunga2.

Mrs.X : “Mana babynya?”
Bunda : “Tuh lagi digendong Ayahnya” (sambil nunjuk Ayah)
Mrs.X : “Orang Indon yah?” [SUMPAH GW GA SUKA BANGET INDONESIA DISINGKAT JADI INDON!!!]
Bunda : “Iya. Mba orang mana?” (senyum ilfill)
Mrs.X : “Saya juga Indon. Dari Cirebon”

Oh. Oh. Oh. Ok.
Percakapan berlanjut dengan dia menceritakan proses kelahirannya yang normal, berat babynya, nanya kenapa gw dioperasi, siapa yang bantu gw di rumah after melahirkan coz ga boleh angkat yang berat2, bla…bla….bla…. Ga lupa dia juga memperkenalkan lakinya Bapak2 India yang lagi duduk di tempat lain (gw perkirakan umurnya 3,25x lebih tua dari umur dia), yang dulunya adalah si pemilik restoran tempat dia bekerja [yoi, Mrs.X sekarang sudah menjadi pemilik “pemilik restoran” beserta restoran2nya]. Lalu tibalah saat2 yang mendebarkan itu………………

Mrs.X : “Suaminya kerja apa?”

Oh. Ok. Gw ga mungkin khan bilang kalo laki gw jabatannya ini itu, ekspatriat legal yang dapet tiket mudik staun skali naik psawat, gaji sekian, dll. So untuk mempermudah………

Bunda : “Suami saya mengkontrol kualitas tanaman. Tapi ga di 1 tempat, jadi travelling mulu krena arealnya banyak”
Mrs.X : “Oh, suami kamu driver?”

Oh. Yes. Oh. No. Oh. Ok. Thanks yah Jeng. Mungkin gw akan pertimbangkan untuk buka bisnis kereta sapu [istilah untuk taxi gelap] kalo pas laki gw libur secara mukanya udah cocok jadi driver.

Dongkol Part 2

TKP : Klinik Kerajaan di Bintulu [again?!], di farmasi lagi ngambil obat Zahia.
Setting : Petugas manggil nomor antrean Bunda lalu Beliau bermaksud menjelaskan cara pemakaian obat.

PF : “Paham bahasa Melayu? Saya nak jelaskan cara pakai ni obat” (ekspresi datar)
Bunda : “Tidak terlalu paham. Pakai Bahasa Inggris ajah” (sok songong)
PF : “Really?” (bertanya dengan air muka seakan2 ga percaya kalo partner bicaranya bisa berbahasa Inggris)

Mantaps! Beliau pun lalu menjelaskan dalam Bahasa Inggris. Dan of course supaya gw keliatan intelek gw sok2an bertanya2 yang mboten2 dalam Bahasa Inggris juga dunks pastinya [nah justru pertanyaan2 yang mboten2 itu Bun yang bikin keintelektualitasan Bunda jadi merosot beberapa point].

Dongkol Part 3

TKP : Tempat makan Pakistan satu2nya penjual Roti Naan yang paling enak di Bintulu, PJ Corner.
Setting : Bunda numpang sholat sama Mak Cik pemilik tempat makan tsb [yang sekarang sudah menjadi Adopted Grandma nya Zahia. Yippie! So kalo kita makan disitu sering banget dikasih diskon dan Zahia dikasih permen, tapi Bunda yang makan permennya]. Karena lokasi tempat sholatnya di lantai 2, maka Mak Cik pun menyuruh salah satu pegawainya nganter gw ke atas.

Bunda : “Maap yah Mak Cik ngerepotin” [semua ibu2 yang umurnya gw perkirakan udah di 40 something gw panggil Mak Cik. Kalo masih muda mah Kakak]
P : “Oh gpp”

Sambil jalan kami pun mengobrol ngalor-ngidul. Kebanyakan Bunda yang nanya, seperti asalnya dari mana (ternyata Beliau dari Inonesia juga, tapi Bunda lupa daerah mana), udah berapa lama Mak Cik merantau, anak berapa, kapan terakhir pulang kampung. Wah pokonya Bunda kaya polisi ngintrogasi tersangka [huehehe mulut ko ga bisa diem seh Bun!]. Setelah itu Mak Cik gantian nanya.

P : “Kalo kamu sih udah enak, udah sukses”
Bunda : “Alhamdulillah” (senyum syukur)
P : “Iya, majikan kamu kelihatannya baik banget”
Bunda : “Majikan?? Mmmm….majikan yang mana yah Mak Cik?” (senyum bingung)
P : “Itu loh yang India itu. Kamu kerja sama dia kan? Kayanya dia baik banget”

Hohohohoho. Sodara2 sekalian sebangsa setanah air, ternyata Mak Cik ini dari dulu suka memperhatikan kami. Dulu sebelum ada Nyokap, kami kalo shopping selalu pergi dengan Mr. Rajan. Beliau adalah orang India tetangga kami, almost 55 taun, yang selalu nebeng ke Bandar (kota Bintulu) coz walopun pangkatnya sama dengan laki gw tapi rezeki dalam hal mobil dinas berbeda dengan Abang. Kalo Abang dapet amanah dari Bosnya berupa Land Cruiser Turbo [kalo disini dipanggilnya Ninja], kalo Mr. Rajan dikasih bosnya mobil single cabin yang ga ada road tax nya sehingga mobil tersebut ga bisa digunakan keluar camp.

So, melihat seperti itu, maka Mak Cik yang memang ga bisa gw salahkan, menebak bahwa Mr. Rajan adalah majikan, Abang supirnya, dan gw udah tentu pembantunya. Suatu padanan yang keren sekali.

Dongkol Part 4

TKP : Nyabau Hospital, waktu dirawat karena pendarahan.
Setting : Ruang perawatan kelas 2 [ato 3 yah?] yang 1 ruangan isinya 6 tempat tidur. Bunda saat itu mendatangi tempat nurse2 berkumpul untuk nanya Dokter.

Oya, supaya deskripsinya lebih jelas, Bunda masuk hospital tanpa persiapan apa2. Awalnya Bunda pikir hanya untuk menge-check kenapa Bunda bleeding dari smalem. Tapi ternyata kalo di Bintulu yang namanya masuk Hospital minimal harus nginep 1 malam [aneh yah, kan kalo di Indonesia kita bisa datang ke RS datang hanya untuk check / kontrol ke Dokter]. So, Bunda cuma bawa baju yang nempel di badan, dompet yang berisi 30 RM, 1 botol susu Dutch Lady, dan coklat Cadburry yang emang selalu ada di tas buat cemilan kalo bepergian.

Bunda : “Kapan Dokter datang?” (nanya ke Nurse yang lagi nulis)
N : “Tunggu saja. Dokter sibuk” (tanpa melihat ke Bunda, perhatian sepenuhnya hanya ke meja)

..... 1 jam kemudian .....

Bunda : “Kapan saya diperiksa Dokter?” [oww..oww…oww…masih Nurse yang tadi]
N : “Dokter masih sibuk” (muka ketus)

..... Beberapa jam kemudian .....

Bunda : “Kapan Dokter bisa periksa saya? Kalo ga saya mau pulang ajah” (muka khawatir karena ngebayangin charge untuk foreigner yang mahal plus sebellll minta ampun)
N : “Mana bisa pulang kalau Dokter belum check. Tunggu saja. Dokter masih sibuk periksa yang lain”

Hebat!! Seberapa banyak seh emak2 hamil yang lagi berada di RS ini??? Ada 1000 orang kali yah ampe Dokternya lamaaaaaa banget nyuekin gw [desperate].

..... Jam demi jam gw lewati. Udah siang banget sekarang .....

Bunda : “Nurse, saya bisa minta minum ga? Saya ga bawa air” (muka melas kehausan bin lumutan nunggu Dokter)
N : “Kamu suruh suami kamu beli atau teman kamu” (muka lempeng seakan2 ga liat penderitaan orang lain yang ampir nekad minum air keran)
Bunda : “Suami saya belum dateng. Saya juga ga ada temen. Macam mana donk?” [capeeeeee deeeehhhhhh!!!!!!]
N : “Kamu beli aja sendiri di bawah ada kantin”

OK! That’s enough!! Gw bleeding, trus disuruh beli minum sendiri di kantin yang jauh itu, dimana posisi gw di lantai 3 dan kantin adanya di parkiran?!?! Haluuuwwww, emang ga ada pantry kah?!?! Bener2 dah ga berperi-kehausan!!!! Gw udah mulai berfikir dan menimbang2 untuk nelepon Kakek gw di Banten [mo kirim paku yah Bun?]

Allah pun menyelamatkan makhluk-Nya yang terdzolimi. Dia mengirimkan malaikat berperut besar banget (ya iyalah wong hamil 9 bulan lebih 2 minggu), yang katilnya bersebelahan ama gw, yang ternyata sesama orang Indonesia, yang bawa air mineral 1,5 liter 2 botol. Akhirnya gw pun “meminjam” air botolnya dan berjanji akan gw ganti kalo Abang dah datang. Thanks God. Dan akhirnya lagi setelah menunggu lebih dari 2 abad, Dokter tercinta pun memanggil gw untuk diperiksa. Gw pun mengambil pose seperti ayam bakakak dan selesailah diperiksa.

Bunda: “Gimana Dok?” (suara lemah karena masih trauma dengan “pantat bebek” yang dimasukkin ke v*g**a)
Dr : “Ini begini ini begitu blab la bla grak grek grok ngak ngik nguk” (menjelaskan panjang lebar)
Bunda: “Dok, saya pulang ajah yah. Lagian kan pendarahannya dah ga banyak, terakhir spot kecil ajah. Sejujurnya saya takut kalo nginep bayarannya mahal karena saya foreigner” (muka memelas)
Dr : “You mau MATI? Kalo ilang banyak darah bisa MATI”

Mantaps! Gw disamain ma kucing bo. Mati?!?! Walah!!

Tapi kemudian everything is change. Setelah si Nurse membaca buku diary gw (itu loh buku catatan kesehatan Ibu Hamil), dia pun menatap gw takjub, memanggil dengan senyum manis di bibir, mengajak mengobrol dengan keramahan tiada tara. Apa gerangan yang terjadi sodara2?? Yoi bangetz. Ternyata Nurse2 itu membaca di diary, tepatnya pada biodata pribadi, dimana tertulis:
Pendidikan : Degree

Dari hasil ngerumpi dengan Nurse2 gw bisa menangkap cerita bahwa:
- Banyak Bumil yang dirawat ga paham Bahasa Melayu, apalagi Bahasa Inggris. Ga sedikit juga yang menggunakan Bahasa Daerahnya. Sehingga terjadilah kesulitan kesulitan berkomunikasi.
- Tidak ada passport ataupun Buku Nikah (kalau di Malaysia saat pertama kali datang untuk control ke Klinik Kerajaan atau masuk Hospital pasti diminta Buku Nikah). Tapi sebagian besar orang ini tetap bisa masuk hospital karena sudah membayar Deposit (uang jaminan) sebesar RM 800 per orang.
- Dari buku diary Bumil [yang berisi informasi pribadi sampai tingkat pendidikan pun terecord], sebagian besar pendidikannya hanya SD atau SMP. Sangat sedikit yang SMA. Sangat jarang yang Diploma. Langka yang kuliah sampai sarjana.

Selama hampir 1,5 tahun kami stay di Sarawak, kami melihat bahwa sebagian besar orang2 Indonesia yang ada disini adalah orang2 un-skill. Bekerja di ladang (tukang tanam, slashing, kerja di nursery, operator alat berat, dll), asisten rumah tangga, supir, tukang mungutin uang di ferry, cleaning service, kerja di restoran, wanita2 pub, jaga toko, dan masih banyak lagi. Di kantor Abang, hanya ada 2 orang Indonesia yang menduduki posisi middle management, itupun yang 1, Mr.Willem dari Tana Toraja, sudah resign. Di Bintulu, kami menemukan [emang barang!] satu orang Dokter asal Indonesia, Dr. Endang Susilawati lulusan UGM.

Persoalan cap / under-estimate ini mungkin susah diubah, selama orang2 Indonesia yang datang ke Malaysia memang tidak memiliki kemampuan yang mumpuni. Tapi at least gw & Abang berusaha semampu mungkin untuk menjaga citra diri kami sebagai orang Indonesia yang berpendidikan. Hidup Indonesia!!! [tiba2 mengalun lagu Indonesia Raya diiringi dengan biola yang mendayu2]


Lanjuuut Maaaang - Pembantu, supir, kuli, buruh kasar = ORANG INDON

See You Later Boss : Mr. Adrian J Carstens

Pagi-pagi sekali aku sudah bergegas menuju kamar mandi di salah satu hotel di Miri kemudian sholat subuh dan seterusnya persiapan mau ke HQ. Maklum saja hari ini adalah hari pertama bertemu kembali dengan my Boss setelah beliau annual leave hampir 40 hari.

Setibanya di HQ ternyata kondisi ruangan masih lengang dan baru aku yang sampai duluan di sana. Mataku langsung tertuju ke ruangan Boss ku dan terlihat masih terkunci rapat. Tak lama berselang beberapa teman-teman sudah mulai berdatangan. Jam dinding di dekat plotter sudah menunjukkan pukul 08.18 am tetapi ruangan boss ku belum juga terbuka. untuk menghilangkan rasa penasaran akupun bertanya kepada teman-teman yang sudah mulai datang apakah kalian ada melihat Mr. Adrian....??? Dan semua mereka mengatakan tidak tahu... Ya sebenarnya udah jelaslah karena aku yang duluan datang kok.

Tidak beberapa lama kemudian barulah Boss ku datang dengan gayanya dan tidak lupa menenteng tas platik keresek berwarna merah andalan yang merupakan bungkusan buah dan persiapan makan siangnya. Boss ku memang seperti itu, pada saat jam istirahat tidak mau keluar ruangan dan makan langsung di dalam ruangan kerja. Setelah berjumpa sekilas dengan beliau dan sambil senyum beliau mengatakan "wait Zul... give me 5 minutes" ... and I said "ok Boss..".

Tidak lama setelah itu tiba-tiba saja ada yang nyelonong masuk tanpa ba bi bu ke ruangan Boss ku dan mereka akhirnya berdiskusi lama banget. Pendek cerita akhirnya akupun memiliki kesempatan juga untuk bertemu beliau.

Good morning Boss, How are you doing, happy new year & xmas.. Aku katakan demikian dan akhirnya kamipun terlibat dalam pembicaraan yang sedikit santai. Sebelum aku sempat mengatakan apapun tentang masalah-masalah pekerjaan selama beliau annual leave, maka beliaupun langsung memotong pembicaraan kami dan mengatakan akan segera pindah ke Australia. Kemudian aku katakan bukankah kontrak anda akan habis next January 2010 dan setahuku sudah approved CEO untuk renewed sampai December 2010. Iya Zul, memang kontrakku udah approved untuk di renewed tapi ... (bagian ini tidak dapat saya lanjutkan karena alasan tertentu).. Aku sangat bahagia mendengar berita baik tersebut, tetapi kemudian aku juga sangat bersedih karena harus berpisah dengan Boss ku yang sangat baik dan perhatian kepada staffnya.

Hari ini mengigatkan ku kembali ketika pertama kali bertemu beliau beberapa tahun silam di Miri International Airport yang mana aku dulunya berfikir beliau adalah bagian legal atau HRD yang bagian khusus penjemputan tamu .... (maaf ya Boss).

Selama beberapa tahun ini terlewati dengan sangat penuh dinamika, tetapi over all saya sangat bangga dan bahagia bisa mendapatkan seorang Boss yang bisa membimbing dan terbuka dengan segala masukan dari inferior.

Bekerja dengan Mr. Adrian memberikanku ruangan yang sangat luas untuk berekspresi dan berkreasi dalam membuat suatu perubahan dan "Breaktrough". Tidak terasa jam dan hari berlalu, bulan silih berganti dan tidak terasa pula slip salary di file folder ternyata sudah menumpuk.

Terima kasih dan semua pencapaian pekerjaan ini saya dedikasikan kepada Mr. Adrian Jacques Carstens.... Good Bye Boss, see you later .... Semoga kita akan bertemu kembali di tempat dan suasana yang berbeda dengan kondisi yang jauh lebih baik dari hari ini...... Good luck & God bless you.


Marudi - Sarawak
Lanjuuut Maaaang - See You Later Boss : Mr. Adrian J Carstens

Monday, 28 December 2009

Bekerja sebagai Ekspatriat di Malaysia

Miri International Airport 06.45 pm

Mr. A : Hi..eee.....Zulfadhli...
Me : Yes sir, I'm so sorry...... you....ee.... Mr. Adrian Jacques Carstens...
Mr. A : Yes. I'm...
Me : I'm so sorry sir.... who is my direct superior....
Mr. A : Me....Zulfadhli...

Wah kalo inget2 sepotong conversation waktu beberapa tahun yang lalu terkadang mengelikan dan memalukan... Bagaimana enggak semuanya berjalan seperti gak logic & very fast.
Kesempatan yang kami peroleh bekerja di sebuah company di Sarawak - Miri malaysia adalah jasa dari Internet. Sang Istri tersayang yang jago dengan piranti teknologi sangat gemar membuka berbagai job vacancies yang ada di dunia maya. Dengan segala fasilitas internet yang ada, Istri tercinta yang seterusnya akan dipanggil Bunda selalu membuka setiap ada lowongan yang cocok dengan kemampuan & kualifikasiku. Sejak menikah kami sudah memiliki cita2 yang sangat kuat harus bekerja di luar negeri... at least di Malaysia sebagai Expatriate. Dan alhamdulillah Allah SWT mengabulkannya setelah beberapa lowongan yang ada dan kita kirim lamaran kesana via email akhirnya hanya selang beberapa hari ada balesan dari company di Malaysia..... dan pendek cerita... rupanya yang email2an dengan kami selama ini adalah GM langsung dan juga Cc nya adalah Mr. Adrian (from South Africa) yang notabene nantinya adalah Boss ku sendiri...

Semua cerita dan proses ini berjalan seperti air mengalir. Dalam proses menjadi karyawan, kami pernah bertanya nanti akan interview dimana??? dll, Tetapi ternyata semuanya ditanggapi oleh GM dengan mengatakan gak perlu interview dan beliau nanya mau minta gaji berapa??? Wah ternyata to the point banget.... agak kagok dan menjadi ragu juga pada saat itu, maksudnya adalah apakah company ini bonafide apa gak? Dan banyak lagi pertanyaan yang menumpuk dalam kepala dan hati. So akhirnya kami secara resmi diterima bekerja di Malaysia dengan menandatangani kontrak kerja yang dikirim via email (scan) dan akhirnya menyusun itinerary schedule (flight).

Setelah menghubungi travel agent dan semuanya fixed, lalu kami kirimkan itinerary schedule via email dan meminta no hape dan nama contact person yang akan menjemput di airport nantinya dan ternyata ya itu tadi yang jemput adalah langsung my Boss. Surprised.

Sebagai seorang foreigner yang baru menjadi "Expartriate" tentunya kami dulu lugu bin kampungan banget.. semuanya gak tahu, truss gak punya relasi yang bisa di tanya, dll.... mencoba mengumpulkan informasi via internet sebanyak2nya mengenai Malaysia, Tax, Regulation, Labour policy, Immigration, Customs, dllllll..... pokoknya banyak sekali.... termasuk masalah rumah sakit karena waktu itu Bunda sedang hamil.
Jadi kalo di rinci yang perlu dipersiapkan oleh calon expartriate baru ke Malaysia adalah :
1. Kumpulkan segala informasi penting tentang kualitas dan bonafiditas perusahaan yang di tuju.
2. Pastikan proses perekrutan anda sudah memenuhi standar dan perturan perudang2an Malaysia. Jangan malu & ragu untuk bertanya kepada HRD masalah ini.
3. Siapkan semua dokumen penting dan pribadi lengkap dengan fotocopy at least 5 rangkap seperti akte kelahiran, scan kontrak kerja, Passport, SIM internasional, KTP, pas foto berbagai ukuran, ijazah, sertifikat, surat nikah kalo ada, dll.
4. Pastikan nego gaji, fasilitas dll yang berhubungan dengan kesejahteraan sudah final, karena akan sulit kalo gak mau dikatakan tidak bisa untuk nego ulang kalo udah signed contract (agreed).
5. Kalo mau membawa keluarga maka dalam contract kerja harus nego family status, jangan sampai single status, karena nanti akan rugi. Walaupun kita sudah berkeluarga tapi kalo salah nego awal ini akan jadi masalah besar.
6. Kalo memang niat sekali mau membawa anggota keluarga menetap di Malaysia, maka sebaiknya pastikan dahulu working permit anda approved by immigration, agar anda gak perlu bayar mahal untuk single entry visa anggota keluarga anda, silakan baca tulisan "Lebih Murah di Indonesia atau Malaysia".

Kami rasa itulah beberapa hal yang penting di ketahui sebelum mengambil keputusan untuk bekerja di Malaysia sebagai Expartriate. Semua cerita ini adalah based on our experienced selama bekerja di Malaysia.

Miri - Sarawak
Lanjuuut Maaaang - Bekerja sebagai Ekspatriat di Malaysia